web counters
Travel

Jeladri, Desa Terpencil Di sebelah Timur Madiun, Sejarah & Panorama Alam yang Mempesona…

Mungkin jarang ada yang tahu ya, kalau di madiun ada desa pelosok yang cantik namun di huni cuman 4 kk aja. Diapit oleh bukit-bukit dan gunung, menjadikan desa terpencil ini semakin asri dan damai.

Tempat yang cocok banget bagi kamu yang ingin sejenak menjauhi hiru pikuk dunia dan keramaian sosial media. Tanpa bising kendaraan dan tanpa adanya jaringan internet. Ya, tepatnya di Desa Jeladri, Kec Kare, Kab Madiun. Selama 2 hari saya berada disana.

Bersama Gus Farid dan temen-temen dari PMB kita mencoba explore alam disana, dan berbaur dengan warga lokal.

Nggak cuman menikmati keindahannya saja, namun tujuan kami datang di sana, juga ada misi mendistribusikan sembako kegiatan sosial. Sedikit bocoran, kami juga akan mengulas sejarah desa jeladri yang menjadi salah satu tempat bersejarah dari kemerdekaan indonesia.

Eeh satu lagi deng, acara kita nanti mau masak soto kampung betawi, dan makan bersama dengan para warga. Pehh pokoknya asik banget. Jadi baca sampai selesai ya…

Dalam konten ini, saya sediakan berupa foto dan video supaya kamu nggak jenuh baca tulisan aja. Dan kamu bisa ngerasain vibes explore alam di desa terpencil dan damai. Karena aku menyadari habit membaca di indonesia itu rendah banget. hehehe.
Satu lagi, di akhir konten ini saya includekan juga berupa vlog dengan Gus Farid yang mengulas mitos noni Belanda.

Bagaimana keseruan kita kali ini? Silahkan lanjut baca di bawah ini…

Saya mulai dari perjalanan ya…

Kita berangkat jam 8.00 mampir alfamart dungus untuk membeli persiapan logistik. Yah, biar nggak kelaparan kalau sudah sampai disana. Perjalanan dari dungus menuju ke desa jeladri sekitar 2jam. Akses sampai di desa terpencil itu bisa naik motor sih. Namun harus bersabar karena jalannya terjal dan naik gunung. Melewati lebatnya hutan wilis dan perkebunan kopi.

Namun, perjalanan medan yang sulit tidak terasa, soalnya pemandangan di sekitar begitu indah. (Sumpah beautiful banget…)

Inilah sedikit cuplikan video waktu perjalanan kami…

Kami, tiba di desa ini pukul 13.00 wib, langsung kami bersilaturahmi dan beramah tamah sama warga di desa jeladri. Mereka sangat ramah dan baik banget. Setibanya disana saya langsung di sambut dengan kopi hitam. Membuat obrolan kita dengan warga lokal menjadi lebih asik lagi.

Sebenarnya mereka bukan warga asli desa jeladri, rata-rata mereka adalah pendatang yang dulunya bekerja di Perkebunan kopi Kandangan. Ada yang dari Trenggalek, Ponorogo, dan Madiun. Namun, karena sudah merasa nyaman kali ya, sehingga mereka betah didesa terpencil ini. Rata-rata yang tinggal disini lebih dari 30 tahun.

Dulunya Desa Jeladri ini sangatlah ramai. Namun seiring berjalannya waktu semakin sepi. Penyebabnya adalah perusahaan kopi disana mengalami penurunan, menjadi alasan yang mendasar mereka keluar dari desa jeladri.

Rata-rata kegiatan warga disini mengelola Perkebunan kopi Kandangan dan beternak kambing. Untuk upah dari mengelola kebun kopi, warga disana di bayar sekitar Rp 25.000 / hari. Bekerja setengah hari mulai dari pagi sampai siang. Gajiannya 15 hari sekali. Kalau di hitung-hitung selama 1 bulan sekitar Rp 750.000.

Panorama Desa yang Indah

Bisa dikatakan ini adalah desa surga, terpencil namun memiliki eksotis pemandangan alam yang cantik banget. Jarang dijamah orang, jadi masih asri. Dikelilingi oleh perbukitan yang hijau, udara yang bersih, ditambah khas kicauan burung, menjadi satu ke satuan suasana yang sempurna. Hutan disana terbilang masih lebat juga. Banyak pohon-pohon besar dan lebatnya dedaunan.

Air Terjun dan Sungai yang Jernih

Tidak hanya menyuguhkan pegunungan yang hijau dan sejuknya udara, desa jeladri memiliki air terjun yang cantik. Bisa di bilang nggak sengaja juga sih kami menemukan spot air terjun yang keren. Padahal kami hanya ingin mencoba menelusuri sungai mata air disana, bersama Pak Tarji warga lokal desa jeladri. Dan ternyata Di ujung sungai ada sebuah penampakan air terjun yang beautiful. Meskipun tidak tinggi, namun air terjun disini memiliki eksotis yang mantap juga. Air nya jernih dan dingin banget. Wow pokoknya, amazing…

Nggak betah rasanya kalau sudah ketemu air terjun, badan rasanya ingin mandi aja. Ya udah ganti pakaian habis itu langsung gass nyebur. Hehe..

Bayangkan deh temen-temen mandi di sungai yang jernih dengan suasana alam yang masih asri. Wahh nggak bisa berkata-kata pokoknya, fantastis. Airnya dingin poll, namun jernih. Wes mantap.

Makan bersama dengan warga lokal

Disana kami juga mengadakan masak bareng di kampung desa jeladri. Kali ini kita masak menu Soto Ayam Kampung Betawi, dan ayamnya langsung kami beli dari warga sekitar.

Di olah oleh chef Gus Farid, masakan yang sederhana ini menjadi begitu nikmat. Yang membuat lebih nikmatnya lagi kita makan bareng bersama warga lokal, ditambah suasana pedesaan yang hening. So perfect deh…

Bakti Sosial Menyerahkan Sembako

Datang di desa terpencil ini, kami tidak cuman bersenang-senang aja. Namun, juga menyerahkan sedikit paket sembako kepada warga lokal disana. Bersama temen-temen dari pemuda madiun bergerak. Kebetulan PMB di amanahi oleh baznas untuk menyerahkan sembako di area kabupaten madiun. Sasarannya bagi masyarakat yang ekonominya di bawah rata-rata. Dan salah satu target tempat yang kami tuju, untuk mendistribusikan sembako yaitu di desa jeladri kab madiun…

Belajar Bersyukur dan Kesederhanaan…

Di waktu pagi hari saya ngobrol langsung face to face dengan warga lokal disana. Saya berbincang-bincang banyak banget. Sambil menikmati kopi panas dan totor (api-apian) di depan pawonan (tungku).

Mereka humbel dan asik untuk diajak ngobrol. Pelajaran yang aku dapatkan dari mereka yaitu tentang kesederhanaan. Dimana dengan fasilitas terbatas dan akses yang jauh, mereka hidup apa adanya. Tidak memaksakan diri. Kehidupan mereka begitu tenang dan damai, menjadi diri sendiri. Dan tidak terkontaminasi gaya hidup di luar yang terkadang kita sering kali membanding-bandingkan.

Kehidupan mereka terlihat bahagia, meskipun disana fasilitas terbatas, tanpa adanya akses internet, hiburan cuman televisi dan suara jangkrik di malam hari. Namun, mereka menikmati kehidupan dengan damai. Saya mentafsirkan bahwa kehidupan mereka selalu bersyukur dalam kondisi apapun. Makanya kehidupan mereka AYEM (damai).

Saya begitu bersyukur banget sama Alloh SWT, karena saya bisa belajar langsung dengan mereka. Belajar menikmati kehidupan. Belajar untuk selalu bersyukur. Belajar untuk bersyukur yang SESUNGGUHNYA. Bukan cuman mengucapkan kata Alhamdulillah atau terima kasih…

Ketenangan jiwa dan batin sebenarnya bukan seberapa banyak harta atau fasilitas yang kita miliki. Namun, dengan kesederhanaan, ditambah selalu bersyukur membuat kehidupan kita menjadi lebih bermakna.

Oke setelah kita membahas trip explore alam, dan kegiatan kita, sekarang saya mau membahas soal sejarah. Kita agak serius dikit, dan siapkan konsentrasi Anda biar paham. Hehe..

Plisss. Jangan pergi dulu ya. Meskipun sejarah itu membosankan, namun ini adalah salah satu cerita yang membuat Indonesia bisa merdeka.

Lanjut di bawah…

Sejarah Desa Jeladri

Desa Jeladri berada di Kec Kare, Kab Madiun, sekitar perkebunan kopi kandangan. Desa terpencil hanya dihuni oleh 4 kepala keluarga ini dulunya Perkebunan Kopi tanam paksa yang sangat menguntungkan bagi pihak Belanda. Hasil dari perkebunan kopi ini di export oleh Belanda pada tahun sekitar 1840an.

Secara geografis Gunung Wilis ini cocok banget dijadikan pertahanan militer dengan menerapkan strategi gerilya.

Ketika tahun 1948 Belanda datang lagi ke Indonesia melakukan Agresi Militer yang kedua. Wilayah dataran rendah baik di kabupaten dan kota madiun sudah dikuasai oleh Belanda. Dan wilayah yang belum dikuasai oleh Belanda berada di dataran tinggi, lereng Gunung Wilis.

Makanya pada masa itu sebagian batalion yaitu Brimob melakukan pertahanan dan pemindahan pemerintahan sementara di Gunung Wilis, yang dipimpin oleh Muhammad Jasin.

Bukan hanya tentara nasional saja yang melakukan perlawanan sama pihak belanda, namun tentara rakyat juga ikut membantu dalam melawan agresi militer yang kedua ini. Ada 3 tempat sebagai pertahanan pemerintahan madiun pada kala itu, yaitu Desa Kandangan, Desa Jeladri dan Desa Seran.

Desa Kandangan sebagai pusat penyiaran radio RRI sementara. Desa Jeladri menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan BRIMOB. Masyarakat disana menyambut mereka dengan baik. Brimob banyak dibantu khususnya soal makanan dan tempat tinggal selama perjuangan.

Sebagai tanda terima kasih kepada warga Desa Jeladri, disana di buatkan sekolah dasar untuk masyarakat disana karena sudah membantu masa perjuangan melawan Belanda.

Saat saya berkunjung disana sebenernya bangunananya masih bagus. Atap-atapnya juga masih lengkap. Dan terakhir dipakai sekolahan tersebut pada tahun 2008.

Mitos Kemunculan Hantu Noni Belanda

Disana ada peninggalan rumah Belanda, dengan desain yang khas banget. Menurut cerita dirumah Belanda itu sangat terkenal sekali dengan kemunculan hantu noni Belanda. Menurut warga disana kemunculan hantu ini setiap jam 9 malam. Dari mitos tersebut saya dan Gus Farid mencoba membuktikan apakah benar2 mitos ini ada?

Dan ternyata….

Anda penasaran ya???

Untuk lebih lengkapnya bisa tonton video vlog kami di bawah ini.

Itu dulu konten saya kali ini semoga bermanfaat ada hal yang bisa temen-temen petik dari explore alam yang saya lakukan ini. Bukan hanya soal senang-senang saja, kita juga belajar sejarah dan kehidupan.

Okey, terima kasih sudah membaca sampai habis, sukses untuk Anda semua dan see you to the top…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *