web counters
Solo Camping di Cemoro Sewu
Stories, Travel

Solo Camping di Cemoro Sewu : Malam Penuh Takut dan Belajar dari Keheningan

Journal Kelana #2 : Perjalanan kecil yang membuka percakapan besar dengan diri sendiri

Ternyata tidak mudah membiasakan diri tidur sendirian di alam terbuka. Rasa takut dan kekhawatiran pelan-pelan memenuhi kepala saat berada di dalam tenda.

Setiap suara kecil terdengar lebih keras dari biasanya. Gesekan daun, hembusan angin, bahkan langkah hewan malam yang tak terlihat, semuanya terasa begitu dekat dan nyata.

Inilah yang saya rasakan saat solo camping di Cemoro Sewu.

Saya berangkat dari rumah pukul empat sore dan tiba di camping ground selepas magrib. Suasana mulai gelap, udara terasa semakin dingin, dan area sekitar perlahan menjadi sunyi.

Tempat ini sangat cocok bagi siapa pun yang ingin kembali dekat dengan alam—baik bersama keluarga, kerabat, maupun untuk belajar solo camping seperti yang sedang saya lakukan.

Area camping-nya nyaman, dengan fasilitas mushala dan toilet yang cukup dekat dari tenda. Hal-hal sederhana seperti inilah yang membuat saya merasa lebih siap untuk mencoba pengalaman pertama bermalam sendirian di alam terbuka.

Tempat ini saya pilih sebagai langkah awal. Sebuah latihan kecil sebelum benar-benar menapaki puncak gunung yang selama ini saya impikan.

Kenyamanan yang biasa saya rasakan di kamar tidur terasa sangat berbeda ketika harus bermalam sendiri di tengah hutan. Di kamar, saya terbiasa dengan lampu, dinding, sinyal, dan rasa aman yang tak pernah benar-benar kusadari keberadaannya. Namun di sini, hanya ada gelap, dingin, sunyi, dan perasaan asing yang memaksaku untuk benar-benar sadar pada keadaan.

Sepi. Sunyi. Tak ada teman bicara.

Dan justru di situlah percakapan paling jujur dimulai.

Awalnya, rasa takut lebih dominan daripada rasa tenang. Pikiran ke mana-mana. Membayangkan hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. Tapi semakin lama saya terdiam, semakin saya sadar bahwa yang paling berisik bukanlah hutan di luar sana, melainkan isi kepalaku sendiri.

Namun, rasa penasaran untuk mencoba hal baru dan mendapatkan pengalaman berharga menjadi energi yang tak mampu saya bendung. Ada dorongan kuat dalam diri untuk tetap bertahan, tetap tinggal, dan membiarkan malam berjalan apa adanya.

Meski bukan sesuatu yang mewah atau luar biasa, solo camping perdanaku di camping ground Cemoro Sewu menghadirkan pengalaman yang sangat bermakna. Di tempat yang jauh dari keramaian itulah saya benar-benar bisa bercakap dan berkomunikasi dengan diri sendiri tanpa distraksi, tanpa notifikasi, tanpa tuntutan apa pun.

Untuk sejenak, saya memutuskan hubungan dengan dunia dan segala hiruk pikuknya. Hanya ada saya, tenda, dan kesunyian hutan.

Di dalam sunyi itu, saya mulai menyadari banyak hal. Tentang lelah yang selama ini saya pendam. Tentang pikiran yang terlalu penuh. Tentang diri yang terlalu sering sibuk mengejar sesuatu, sampai lupa berhenti sejenak untuk benar-benar hadir.

Malam itu tidak memberikan kenyamanan, tapi memberikan kesadaran.

Pagi harinya, saat cahaya mulai masuk perlahan ke dalam tenda, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan bangga karena berhasil bermalam sendirian. Tapi lega, karena berhasil melewati percakapan panjang dengan diri sendiri.

Secangkir kopi hangat di pagi hari saya siapkan sebagai perayaan kecil setelah berhasil melewati malam yang terasa begitu panjang. Uapnya mengepul pelan di dalam tenda, menghangatkan udara dingin yang sejak tadi menusuk kulit.

Ada rasa lega yang sulit dijelaskan—lega karena berhasil bertahan, lega karena berhasil melewati ketakutan yang sempat ramai di kepala semalam.

Perut yang mulai keroncongan memaksa saya untuk segera memasak sendiri di tengah hutan. Menu pagi hari ini sederhana: mi instan, telur, sosis, dan sedikit sayur untuk mengisi kembali energi.

Tidak ada yang mewah, tidak ada yang istimewa. Tapi entah kenapa, rasanya jauh lebih nikmat daripada sarapan di rumah. Mungkin karena prosesnya. Mungkin karena suasananya. Atau mungkin karena saya benar-benar hadir saat menyiapkannya.

Hujan deras yang turun sejak subuh hingga pukul sembilan pagi memaksaku untuk memasak di dalam tenda. Suara rintiknya terdengar jelas mengenai flysheet, seperti musik alam yang menemani pagi. Padahal, rasanya ingin sekali menikmati suasana pagi di luar tenda—menghirup udara segar, melihat kabut tipis di antara pepohonan, dan merasakan hidupnya hutan di awal hari.

Namun alam berkata lain. Dan di situlah saya belajar lagi satu hal sederhana: menerima dan beradaptasi dengan keadaan.

Ternyata, di dalam tenda pun tetap terasa nikmat. Ruang kecil itu justru menjadi tempat yang hangat untuk berpikir. Saya masih bisa beraktivitas—menyeduh kopi, memasak, menulis, merenung, dan mulai menyusun skrip konten yang nantinya akan saya terbitkan di beberapa media sosial.

Di tengah hujan, tanpa sinyal yang stabil, tanpa distraksi notifikasi, pikiran saya terasa lebih jernih. Ide-ide mengalir lebih tenang. Kalimat demi kalimat terasa lebih jujur. Seolah-olah alam sedang meminjamkan ketenangannya agar saya bisa kembali mendengar isi kepalaku sendiri.

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mendapatkan pelajaran berharga dalam kehidupannya. Ada yang menemukannya di keramaian, ada yang menemukannya dalam pencapaian, dan ada juga yang menemukannya dalam kesunyian.

Dan saya memilih solo camping sebagai jalan untuk belajar dari keheningan.

Camping Ground di Cemoro Sewu

Bagi saya, pengalaman solo camping sederhana ini akhirnya bukan hanya menjadi cerita perjalanan biasa. Ini menjadi bagian dari perjalanan kehidupan yang sengaja saya dokumentasikan di Journal Kelana.

Tepat pukul 11 siang, saya memutuskan untuk berkemas. Tenda mulai saya lepas perlahan, satu per satu perlengkapan saya masukkan kembali ke dalam carrier. Gerakannya terasa lebih tenang, tidak terburu-buru seperti saat pertama kali datang. Rasanya sudah cukup. Cukup untuk bernapas lebih lega, dan cukup untuk menjawab rasa penasaran saya tentang bagaimana rasanya tidur sendirian di alam terbuka.

Hutan yang semalam terasa asing, kini terasa lebih akrab. Udara yang tadi malam begitu menusuk, sekarang justru terasa menyegarkan. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan, seolah tempat ini baru saja mengajarkan sesuatu yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain.

Perjalanan pulang pun terasa berbeda. Jalan yang sama, pemandangan yang sama, tapi pikiran saya tidak lagi sama. Ia masih berjalan, mencerna, dan belajar dari apa yang baru saja saya alami. Keheningan yang semalam saya rasakan ternyata menjadi pembelajaran yang sangat berharga.

Saya menyadari bahwa selama ini, saya jarang benar-benar diam. Jarang memberi ruang pada diri sendiri untuk berhenti, mendengar, dan merasakan. Solo camping ini memaksa saya untuk melakukan itu. Memaksa saya untuk berdamai dengan rasa takut, berdamai dengan sepi, dan berdamai dengan isi kepala sendiri.

Rasa takut yang sebelumnya begitu mendominasi, kini terasa seperti sahabat. Ia tidak lagi menakutkan, justru menjadi bagian dari proses yang membawa saya pada ketenangan dan pemahaman baru di tengah sunyinya alam.

Dari perjalanan singkat ini, saya belajar bahwa terkadang kita tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menemukan pelajaran hidup. Cukup berhenti sejenak, menjauh dari keramaian, dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk benar-benar hadir.

Sebelum saya tutup cerita saya ini, buat teman-teman yang tertarik mencoba camping di Cemoro Sewu, soal budget ternyata cukup bersahabat.

Berikut rincian biaya yang aku keluarkan waktu itu:

  • Tiket masuk: Rp15.000
  • Parkir motor: Rp10.000
  • Konsumsi (jajan, mi instan, telur, sosis, sayur, kopi, dan camilan): sekitar Rp70.000

Kalau ditotal, pengalaman solo camping kemarin hanya menghabiskan biaya sekitar seratus ribuan saja.

Dengan biaya yang relatif kecil, kita sudah bisa mendapatkan pengalaman bermalam di alam terbuka, suasana yang tenang, udara yang segar, dan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Rasanya ini bukan soal murah atau mahal, tapi soal pengalaman yang didapat jauh lebih berharga dari angka yang dikeluarkan.

Sekian dulu cerita saya di Journal Kelana kali ini. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca sampai habis. Semoga ada hal baik yang bisa kamu ambil. Dan see you di cerita saya selanjutnya…

0Shares