Touring Kedua : Tersesat Gara-Gara Kurang Persiapan dan Salah Memilih Jalur
Bisa dibilang, saya ini masih sangat awam soal dunia touring. Kalau soal berkendara jarak dekat, iya, saya sudah terbiasa. Tapi untuk touring—mengandalkan sepeda motor, menembus perjalanan panjang, dan mencari tempat-tempat baru—itu sebenarnya bukan wilayah saya. Hobi ini seperti muncul begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa fase adaptasi.
Dulu, saya termasuk orang yang sangat anti bepergian jauh naik motor. Rasanya ribet, melelahkan, dan tidak nyaman. Tapi anehnya, belakangan justru saya merasa ada dorongan kuat untuk terus jalan, melihat tempat baru, dan merasakan perjalanan itu sendiri.
Kadang hidup punya caranya sendiri untuk mengubah kita. Sesuatu yang dulu kita hindari, tiba-tiba menjadi sesuatu yang justru memberi ketenangan. Entah karena bertambah usia, bertambah pengalaman, atau bertambah lelah dengan rutinitas, saya sendiri kurang tahu. Tapi itulah hidup: tidak selalu bisa ditebak.
Touring kedua saya ini sebenarnya saya niatkan sebagai perjalanan kecil untuk menyegarkan pikiran. Targetnya adalah Jalur Lintas Selatan (JLS), jalur pantai selatan yang baru diresmikan, membentang dari Tulungagung sampai Pacitan. Saya ingin merasakan sensasi lewat jalur baru ini, menikmati anginnya, melihat hamparan pantai dari kejauhan, dan kalau bisa, berhenti di beberapa titik untuk mengambil foto.
Baca juga : Touring Sendirian : Dari Madiun – Malang ke Gunung Bromo
Dua minggu sebelum berangkat, saya sudah mempersiapkan semuanya. Tripod, kamera, powerbank, minyak angin, jas hujan, bahkan sleeping bag pun saya masukkan ke dalam tas. Niat banget pokoknya. Dalam pikiran saya, kalau sewaktu-waktu capek, saya bisa istirahat di mana saja tanpa takut kedinginan. Saya ingin perjalanan ini terasa lengkap; bukan hanya sekedar sampai tujuan, tapi juga benar-benar menikmati prosesnya.
Sayangnya, ada satu hal penting yang saya lewatkan: riset. Saya terlalu fokus pada persiapan barang, tapi kurang memperhatikan persiapan jalur dan destinasi. Padahal ini justru yang paling krusial. Saya cuma tahu bahwa JLS itu dekat dengan Pantai Sine dan punya view bagus dari area perbukitan. Tapi saya nggak benar-benar mencari tahu titik masuknya dari arah mana yang paling ideal, dan rute apa yang paling masuk akal.
Alhasil, saya malah mengikuti Google Maps yang membawa saya lewat jalur Panggul, Trenggalek. Dan itu—ternyata—jauh dari titik tujuan yang saya bayangkan. Padahal sekarang ini informasi sangat mudah diakses. Kita mau tahu jalur, kondisi jalan, rute motor, rekomendasi titik foto, semuanya ada di YouTube, TikTok, dan Google. Tapi ya begitulah, kadang saking semangatnya berangkat, saya lupa memastikan hal paling penting: riset.
Di tengah perjalanan, ketika menyadari bahwa rute yang saya ambil salah jauh dari ekspektasi, saya mulai merasa ragu. Jarak yang sudah saya tempuh sekitar 2 jam setengah; lumayan jauh. Dan kalau saya memaksa untuk lanjut, perjalanan pulang bisa lebih lama lagi. Bisa-bisa sampai rumah tengah malam atau malah dini hari. Badan sudah capek, jalanan gelap, dan masih harus kerja esok harinya. Banyak pertimbangan yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk putar balik.
Sejenak, saya ada rasa jengkel, tentu saja. Ada rasa “yah, gagal nih touringnya.” Tapi setelah dipikir-pikir, kehidupan memang sering memberi pelajaran lewat momen seperti ini. Saya pulang dengan membawa catatan penting, bukan kekecewaan. Saya belajar bahwa touring itu bukan hanya soal gas, tapi juga strategi. Bukan hanya soal keberanian, tapi juga persiapan.
Dari pengalaman ini, saya ingin berbagi sedikit saran buat teman-teman yang mau mulai touring:
1. Tentukan destinasi dengan jelas.
Jangan cuma tahu namanya. Ketahui titik koordinat, pintu masuk, tempat parkir, bahkan titik pemberhentiannya.
2. Lakukan riset rute.
Beda kota, beda jalur. Gunakan Google Maps, YouTube, atau TikTok untuk melihat kondisi jalannya. Banyak konten kreator yang detail banget memberi informasi jalur touring.
3. Cek kondisi kendaraan.
Ban, oli, rem, semuanya harus oke. Touring itu bukan seperti jalan-jalan biasa.
4. Siapkan estimasi waktu yang realistis.
Jangan memaksa mengejar tujuan kalau kondisi tubuh sudah lelah atau hari sudah terlalu sore.
5. Siapkan perlengkapan seperlunya.
Tidak harus banyak, tapi harus tepat. Yang penting aman dan nyaman.
Touring itu soal menikmati perjalanan. Tujuan hanyalah bonus. Saya belajar itu dari satu kalimat yang sangat melekat di kepala saya:
“99% perjalanan adalah prosesnya. 1% sisanya adalah tempat tujuan—dan itu hanya bonus.”
Dan itu benar. Saat saya membawa motor melintas di jalanan sepi, melewati rumah-rumah yang belum pernah saya lihat, merasakan angin sore yang dingin tapi menenangkan, saya sadar… inilah esensi touring. Bukan soal sampai atau tidak sampai. Bukan soal berhasil atau tidak berhasil. Ini soal merasakan hidup di jalanan, menjadi diri sendiri, menikmati waktu tanpa harus terburu-buru.
Bagi saya, cerita, pengalaman, dan pembelajaran yang saya dapat selama perjalanan jauh lebih berharga daripada spot foto di ujung jalan. Solo riding memberi ruang untuk berpikir, untuk merasa, untuk berdialog dengan diri sendiri. Dan kadang, itu yang kita butuhkan.
Mungkin ini dulu ya, kisah touring saya kali ini. Terima kasih kamu sudah membaca sampai habis. Sukses untuk Anda semua dan see you on the top…

