Solo Riding di Jalur Lintas Selatan untuk Menaklukkan Pikiran Sendiri
“Rasa malas menahan langkah, keraguan membatasi pandangan untuk melihat luasnya dunia.”
Ada rasa ragu dan malas yang begitu berat sebelum berangkat ke Jalur Lintas Selatan. Keinginan untuk berkunjung sebenarnya sudah lama ada, tetapi kali ini saya memutuskan pergi sendirian, tanpa teman. Solo riding dari Madiun menuju Tulungagung, dengan tujuan utama menyusuri Jalur Lintas Selatan.

Di Google Maps, perjalanan dari Madiun tercatat sekitar 3–4 jam. Angka itu justru membuat keraguan saya semakin besar. Bayangan lelah, panas di siang hari, dan dingin saat malam menjadi “hantu-hantu kecil” di kepala saya. Pikiran saya sibuk mencari alasan untuk menunda: nanti saja, lain waktu saja, tunggu ada teman saja.
Namun di sisi lain, ada suara kecil yang mengingatkan: setiap perjalanan selalu menghadirkan pengalaman dan cerita baru. Dan cerita seperti itu tidak pernah bisa dibeli, tidak bisa diulang, dan tidak bisa digantikan.
Akhirnya, saya memutuskan untuk berangkat.
Saya keluar rumah pukul 06.30. Perjalanan saya jalani pelan, santai, tanpa ambisi mengejar waktu. Setiap satu jam sekali saya berhenti. Bukan karena motor bermasalah, tapi karena saya ingin benar-benar menikmati perjalanan. Itulah yang membuat waktu tempuh molor hingga hampir 5 jam. Saya baru tiba di Jalur Lintas Selatan sekitar pukul 12.00.

Sedikit informasi bahwa Jalur Lintas Selatan proyek strategis nasional untuk meningkatkan konektivitas dan ekonomi pesisir Jawa mulai dari Banten sampai jawa timur. Proyek ini bertujuan juga untuk memudahkan akses ke berbagai destinasi wisata pantai, seperti Pantai Gemah, Dlodo, dan Bayeman di Tulungagung. Jadi nggak salah, JLS menjadi primadona jalan dengan pemandangan laut yang begitu cantik.
Oke, kembali ke cerita perjalanan saya ya.
Di perjalanan, banyak hal tak terduga terjadi. Ketika memasuki Kecamatan Pucanglaban, saya mulai kebingungan. Jalanan rusak, tanjakan dan turunan bukit silih berganti. Motor tidak bisa dipacu kencang. Ditambah lagi, paket data saya tiba-tiba hilang. Google Maps yang selama ini menjadi penunjuk arah, mendadak tidak bisa diandalkan.
Di titik itu, saya hanya punya dua pilihan: kembali atau terus maju dengan bertanya pada warga.
Saya memilih terus maju.
Saya berhenti di beberapa rumah warga, bertanya arah menuju JLS dan pantai. Mereka menjawab dengan ramah, dengan bahasa yang sederhana, dengan senyum yang tulus. Dari situ saya sadar, perjalanan bukan hanya tentang tujuan, tapi juga tentang pertemuan-pertemuan kecil di sepanjang jalan.
Saya melanjutkan perjalanan dengan insting, menyusuri jalan berlubang, naik-turun perbukitan, ditemani rasa penasaran yang semakin besar.
Rasa tidak nyaman, lelah, dan khawatir perlahan berubah menjadi rasa penasaran dan semangat.
Dan benar saja.
Semua rasa itu terbayar lunas ketika saya benar-benar sampai di Jalur Lintas Selatan.

Hamparan pantai yang luas terbentang di kejauhan. Angin laut menyambut dengan lembut. Jalan raya yang lebar, aspal yang begitu halus, dan kelokan jalan yang memanjakan mata membuat saya terdiam beberapa saat. Rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda, dunia yang selama ini hanya saya lihat di foto dan video orang lain.
Kini saya ada di sana, menyaksikannya langsung.

Aspalnya mulus tanpa lubang. Garis jalan tertata rapi. Kelokan demi kelokan terasa begitu nikmat dilalui. Tidak heran jika JLS menjadi primadona para pe-touring. Jalan ini seolah memang diciptakan untuk dinikmati, bukan sekadar dilalui.
Di titik itu, saya tersenyum sendiri di balik helm.
Ternyata, yang selama ini menghalangi saya bukan jaraknya, bukan waktunya, bukan medannya.
Tapi keraguan dan kemalasan di dalam diri saya sendiri.

Perjalanan ini bukan hanya membawa saya dari Madiun ke Tulungagung. Tapi juga membawa saya melewati batas-batas pikiran saya sendiri. Saya belajar bahwa sering kali, ketakutan hanya ada di kepala. Dan keberanian itu muncul saat kita memutuskan untuk melangkah, meski dengan ragu.
Karena dunia ini terlalu luas untuk hanya dilihat dari layar ponsel.
Dan cerita-cerita indah, sering kali menunggu di ujung keputusan sederhana: berangkat.

Sesampainya di sana, saya berhenti sejenak, mematikan mesin motor, lalu melepas helm perlahan. Angin laut langsung menyapa wajah saya. Suaranya khas, bercampur dengan debur ombak dari kejauhan. Di titik itu, saya benar-benar sadar: saya sampai.
Tentu saja, saya mengabadikan momen yang begitu spesial ini. Beberapa foto dan video saya ambil. Bukan untuk pamer di media sosial, melainkan sebagai pengingat pribadi bahwa saya pernah melawan keraguan dan kemalasan demi menyaksikan langsung keindahan ciptaan Tuhan.
Dokumentasi ini bukan soal konten, tapi soal kenangan. Soal bukti bahwa saya pernah ada di titik ini, pada hari ini, dengan segala proses yang mengantarkan saya ke sini.
Saat saya mengunggahnya ke media sosial, itu lebih sebagai arsip pribadi. Sekaligus berbagi informasi, siapa tahu ada orang lain yang diam-diam menyimpan keinginan yang sama, tetapi masih tertahan oleh ragu seperti yang saya alami sebelumnya.
Setelah cukup puas mendokumentasikan suasana, saya memutuskan mampir ke sebuah rumah makan dengan pemandangan langsung ke Pantai Sine yang begitu indah.

Perut yang mulai “bernyanyi” tepat pukul 12.00 menjadi alasan kuat untuk segera diisi. Sejak berangkat, saya hanya sarapan dua potong roti yang saya beli di minimarket.
Saya memesan seporsi nasi dengan ayam goreng. Sederhana, tidak mewah, tapi terasa sangat cukup. Di tempat seperti ini, rasa lapar membuat makanan biasa terasa luar biasa nikmat. Saya juga memesan es degan dan secangkir kopi sebagai pelengkap.
Es degan yang dingin terasa seperti penawar dahaga setelah hampir lima jam berkendara. Setiap tegukan seperti mengembalikan energi yang terkuras di perjalanan. Sementara kopi hangat di depan saya menjadi teman terbaik ketika saya mulai membuka buku jurnal yang sudah saya siapkan dari rumah.
Saya mulai menulis.
Mencatat jam berangkat, mencatat rasa ragu sebelum berangkat, mencatat jalan rusak di Pucanglaban, mencatat momen saat paket data hilang, mencatat setiap rasa yang saya alami sepanjang perjalanan. Saya tidak ingin momen ini hanya lewat begitu saja tanpa jejak.
Mungkin terlihat aneh.
Banyak orang menikmati pemandangan alam dengan bercanda, merokok, atau makan besar bersama teman-teman. Namun saya justru memilih diam, memandang laut cukup lama, lalu menulis setiap detail yang saya rasakan saat itu.
Bagi saya, di situlah letak kenikmatannya.
Saya merasa benar-benar hadir. Tidak sibuk dengan notifikasi. Tidak sibuk dengan percakapan. Tidak sibuk dengan distraksi. Hanya saya, suara ombak, angin pantai, sepiring makanan sederhana, segelas es degan, secangkir kopi, dan sebuah buku jurnal.
Di momen itu, saya merasa sangat merarasa hadir utuh.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik dari Madiun ke Tulungagung. Tapi perjalanan batin, dari keraguan menuju keberanian. Dari kemalasan menuju keputusan. Dari hanya ingin, menjadi benar-benar melakukan.
Dan semua itu terasa sangat layak untuk dikenang.
Pada akhirnya, perjalanan singkat dan sederhana ini memang tidak mengubah hidup saya secara drastis. Tidak ada hal luar biasa yang tiba-tiba terjadi setelahnya. Namun, ada satu hal kecil yang mulai berubah di dalam diri saya: cara saya memandang rasa malas dan keraguan.
Saya mulai memahami bahwa untuk menjadi pribadi yang sedikit lebih baik, saya tidak selalu membutuhkan langkah besar. Cukup dengan berani melawan rasa malas, dan perlahan melonggarkan keraguan yang sering kali membelenggu pikiran.
Sering kali, kita merasa menunggu waktu yang “tepat”, teman yang “pas”, atau kondisi yang “ideal”. Padahal, semua itu hanya alasan yang dibuat oleh pikiran kita sendiri agar tetap berada di zona nyaman.
Perjalanan ini menyadarkan saya bahwa pelajaran hidup tidak akan pernah datang saat saya hanya rebahan, berdiam diri, dan menunda. Pelajaran justru hadir ketika saya memutuskan untuk bergerak, meski dengan langkah kecil, meski dengan rasa ragu.
Dari perjalanan inilah saya belajar berpikir lebih jernih, merasakan lebih dalam, dan mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Karena ternyata, pengalaman sederhana di jalan, pertemuan dengan warga, rasa lelah, rasa haus, hingga momen duduk diam menatap laut—semuanya menyumbang pelajaran yang tidak bisa saya dapatkan dari layar ponsel atau sekadar lamunan.
Saya sadar, menjadi lebih baik itu bukan tentang perubahan besar dalam semalam. Tapi tentang keberanian melakukan hal-hal kecil yang sebelumnya selalu saya tunda.
Rincian Biaya Solo Reading
Banyak orang mengira perjalanan seperti ini butuh biaya besar. Padahal, solo riding yang saya lakukan ke Jalur Lintas Selatan ini terbilang cukup ekonomis.
Dari berangkat pagi sampai kembali pulang ke Madiun, total pengeluaran saya hanya sekitar 100 ribuan saja. Tidak sampai menguras dompet, tapi cukup untuk menghadirkan pengalaman yang berkesan.
Berikut rinciannya:
Pertalite (Pulang–Pergi) : Rp 60.000
Untuk jarak Madiun – Tulungagung via JLS, konsumsi bensin motor masih sangat wajar. Tidak boros, asalkan riding santai dan tidak terlalu sering buka gas dalam.
Konsumsi (Makan siang, kopi, es degan) : Rp 35.000
Seporsi nasi ayam goreng sederhana, segelas es degan setelah hampir 5 jam perjalanan, dan secangkir kopi hangat untuk menemani menulis jurnal menghadap Pantai Sine.
Snack / Jajan ringan : Rp 15.000
Roti dan camilan kecil untuk teman di jalan. Tidak mewah, tapi cukup menjaga energi.
Total : Rp 105.000
Kadang kita terlalu sering menunda karena merasa “belum punya cukup uang” atau “belum waktunya”. Padahal untuk pengalaman sederhana seperti ini, yang dibutuhkan bukan budget besar tapi keputusan untuk berangkat.
Seratus ribu rupiah mungkin bisa habis untuk hal-hal yang cepat terlupakan.
Tapi perjalanan ini memberi saya cerita yang akan saya ingat lebih lama.
Terima kasih banyak buat kamu yang sudah menyempakan waktu membaca cerita saya sampai habis. Semoga ada hal yang bisa kamu dapatkan. Sekian dan terima kasih, nantikan cerita saya di #JournalKelana selanjutnya ya. See you on the top…
Related Posts
- Touring Kedua : Tersesat Gara-Gara Kurang Persiapan dan Salah Memilih Jalur
- Touring Sendirian : Dari Madiun - Malang ke Gunung Bromo
- Habis Biaya Touring Madiun - Malang PP Cuman 100rb Doang!
- Solo Camping di Cemoro Sewu : Malam Penuh Takut dan Belajar dari Keheningan
- Bukit Cumbri: Pendakian Pertama, dan Pelajaran untuk Pulang ke Diri Sendiri
- Ketika Saya Tidak Mengejar Waktu di Jalan Madiun–Jogja









