web counters
Menikah
Opinion

Ketika Pertanyaan “Kapan Menikah?”

Tentang waktu yang membentuk, bukan menunda

Dulu, waktu masih remaja, saya berpikir bahwa menikah adalah sesuatu yang sederhana. Cukup bertemu lawan jenis, saling suka, lalu akad dan pesta. Seolah-olah hidup setelah itu akan berjalan lurus, rapi, dan aman sesuai rencana yang kita bayangkan.

Nyatanya, semakin dewasa, pemahaman itu pelan-pelan memudar.

Bukan karena saya menjadi pesimis, melainkan karena hidup mengajarkan banyak hal yang tidak pernah saya pelajari di masa remaja. Tentang tanggung jawab. Tentang luka. Tentang realitas yang tidak selalu ramah.

Oh iya, tulisan ini lahir dari keresahan yang belakangan sering muncul di kepala saya. Dan rasanya, keresahan ini bukan hanya milik saya. Terutama bagi teman-teman yang sedang berada di usia 25–30 tahu usia yang sering disebut sebagai fase “sudah waktunya menikah”.

Di usia ini, pertanyaan tentang menikah datang dari banyak arah.
Dari keluarga. Dari lingkungan. Dari pertemanan. Kadang bukan dalam bentuk tuntutan keras, tapi cukup lewat kalimat sederhana seperti, “kapan nyusul?” yang entah kenapa bisa terasa berat.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun.
Bukan juga pembenaran untuk menunda.
Anggap saja ini sebagai ruang untuk bernapas sebentar.
Ruang untuk jujur bahwa tidak semua orang sedang baik-baik saja dengan pertanyaan tentang masa depan.

Di usia yang katanya sudah matang untuk menikah, justru banyak hal terasa semakin kompleks.

Bukan hanya soal kesiapan materi yang sering dijadikan tolok ukur utama tetapi juga kesiapan mental, kedewasaan emosi, arah hidup, dan kemampuan berdamai dengan diri sendiri. Dan yang paling sering membuat diam lama: soal jodoh.

Bukan karena tidak ingin menikah, tetapi karena sadar bahwa salah memilih bisa melahirkan luka yang panjang.
Kita mulai mengerti bahwa cinta saja tidak cukup.
Bahwa visi hidup, cara menyelesaikan masalah, dan kesiapan bertumbuh bersama jauh lebih penting.

Bertemu orang baru tidak selalu berujung pada kecocokan.
Yang cocok belum tentu siap.
Yang siap belum tentu sejalan.
Dan yang sejalan, kadang justru datang di waktu yang belum bisa dipastikan.

Di fase ini, galau menjadi tamu yang sering mampir dalam kehidupan saya. Ada rasa bingung, ada lelah, ada pertanyaan yang berputar-putar di kepala: “Sebenarnya aku kurang apa?” atau “Salahku di mana?

Setelah sadar kembali, tidak semua hal harus saya kambing hitamkan (aku salahkan).

Kamu pasti setuju, bahwa realita kehidupan dewasa memang tidak bisa diprediksi satu per satu. Kita bisa merencanakan pendidikan, karier, bahkan target hidup lima tahun ke depan. Tapi soal pertemuan, perasaan, dan waktu, sering kali berjalan di luar kendali.

Dari data yang saya baca, jumlah orang yang belum menikah di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Pada tahun 2025, dari total 286,69 juta jiwa penduduk Indonesia, sekitar 130,99 juta orang—hampir setengahnya atau sekitar 45%—berstatus belum kawin. Data ini saya ambil dari Dukcapil.

Angka ini menarik.
Bukan untuk diperdebatkan, apalagi dihakimi.
Tapi untuk direnungkan.

Ia seolah memberi pesan bahwa menikah memang bukan perkara sederhana.
Bukan sekadar urusan usia, bukan pula soal sudah ada pasangan atau belum.
Menikah bukan hanya tentang menggabungkan seorang laki-laki dan perempuan, melainkan menyatukan dua dunia yang masing-masing membawa latar belakang, nilai hidup, luka, harapan, dan ketakutan.

Setiap orang punya titik berangkat yang berbeda.
Ada yang tumbuh dari keluarga hangat, ada yang besar dari rumah yang penuh konflik.
Ada yang belajar cinta dari contoh nyata, ada pula yang justru belajar dari kegagalan orang-orang terdekatnya.

Mungkin itu sebabnya ritme setiap orang tidak pernah sama.

Ada orang yang menikah cepat dan hidup bahagia.
Ada yang menikah cepat, tapi harus melalui banyak proses penyembuhan.
Ada yang menunggu lama bukan karena tak laku, melainkan karena sedang belajar berdamai dengan diri sendiri.
Dan ketika akhirnya bertemu, ia datang dengan versi diri yang lebih tenang.

Tidak semua yang cepat itu salah.
Tidak semua yang lama itu benar.
Setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing.

Yang sering kali melelahkan bukan menunggunya, tetapi tekanan sosial yang membuat seolah-olah hidup punya tenggat waktu tertentu.
Seakan menikah adalah lomba, dan siapa yang terlambat dianggap gagal.

Padahal hidup tidak bekerja seperti itu.

Menikah bukan garis finish.
Ia adalah pintu masuk ke fase hidup yang baru yang di dalamnya ada kerja sama, pengorbanan, komunikasi, dan kedewasaan yang terus diuji.

Maka wajar jika banyak orang hari ini memilih lebih berhati-hati.
Bukan karena takut menikah, tetapi karena ingin menikah dengan sadar.

Semua orang berjalan di ritme yang berbeda.
Dan selama kita jujur pada diri sendiri, ritme itu layak dihormati.

Mungkin, dewasa bukan tentang siapa yang paling dulu sampai di tujuan, tapi siapa yang paling siap menerima proses. Belajar berdamai dengan waktu, dengan kesendirian, dan dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu mengikuti skenario yang kita tulis saat remaja.

Menikah hari ini bukan lagi sekadar soal status atau usia.
Ia adalah tentang tanggung jawab yang disadari, kesiapan untuk bertumbuh bersama, dan keberanian menghadapi hidup—bukan sendirian, tetapi juga tidak sembarangan memilih teman berjalan.

Menikah bukan pelarian dari sepi.
Bukan pula jawaban atas tekanan sosial.
Ia adalah keputusan besar yang menuntut kesadaran, kesabaran, dan komitmen untuk saling menjaga, bahkan ketika keadaan tidak selalu mudah.

Dan jika hari ini kamu masih sendiri, mungkin itu bukan tanda keterlambatan.
Bisa jadi, kamu sedang dipersiapkan.
Pelan-pelan aja.
Lewat proses yang sering kali membingungkan, melelahkan, bahkan menyakitkan.

Tapi siapa tahu, suatu hari nanti kita akan menoleh ke belakang dan menyadari: semua penantian itu bukan sia-sia.

Ia membentuk kita menjadi pribadi yang lebih utuh, lebih tenang, dan lebih siap mencintai dengan cara yang benar.

Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa siap kita menjaga apa yang nanti kita miliki. Dan ketika waktunya tiba, semoga kita hadir bukan hanya dengan cinta, melainkan dengan diri yang lebih utuh dan siap untuk bertumbuh bersama.

0Shares