Vision, Growth, People : Tiga Tugas Utama CEO
“Apa sih sebenarnya tugas seorang CEO?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba di kepala saya. Bukan karena sedang membaca buku bisnis, bukan juga karena ikut seminar. Tapi karena saya sedang merasa lelah.
Beberapa waktu lalu, saya sering merasa stuck. Burnout. Bingung harus mengerjakan apa dulu, karena saya merasa pekerjaan kok tidak ada habisnya. To-do list selalu saja penuh. Pekerjaan datang silih berganti. Tidak cuman itu saja, urusan pribadi juga ikut menuntut perhatian.
Kepala saya rasanya begitu sesak. Bukan karena saya tidak mampu. Justru karena terlalu banyak hal yang saya kerjakan sendiri, sehingga terasa sekali di kepala.
Bukan hanya itu, banyaknya pekerjaan yang saya tangani juga mulai menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil.
Beberapa di antaranya bahkan berujung komplain pada pekerjaan yang dipercayakan kepada saya dan tim. Saya menjadi kurang teliti saat mengoreksi draft materi proyek. Hal-hal yang seharusnya bisa dicek dengan baik justru terlewat.
Akibatnya, koordinasi antar tim ikut terhambat, dan pekerjaan yang seharusnya bisa berjalan lancar menjadi tersendat.
Banyak pemilik bisnis, terutama yang usahanya masih dalam tahap berkembang, mengalami hal yang sama. Kita sering menyebut diri sebagai CEO. Tapi dalam praktiknya, kita lebih mirip Chief Everything Officer.
Semua dikerjakan sendiri.
Mulai dari marketing, manajemen, sampai urusan produksi. Dari hal yang strategis, sampai hal yang sangat teknis. Dari yang seharusnya dipikirkan, sampai yang seharusnya dikerjakan orang lain.
Namun memang, realitas membangun bisnis di fase awal sering kali seperti itu. Kita belum punya tim yang lengkap. Sistem belum rapi. Cash flow belum cukup aman untuk membagi banyak peran. Akhirnya, semua divisi kita pegang sendiri.
Lelah, capek, dan buntu rasanya seperti menjadi menu harian.
Bangun tidur sudah memikirkan pekerjaan.
Mau tidur pun kepala masih penuh oleh pekerjaan.
Ironisnya, kita merasa itu wajar. Bahkan merasa bangga karena merasa “sangat produktif”.
Saya pun mengalaminya.
Meski sudah memiliki beberapa tim, tetap saja masih ada bagian-bagian yang saya pegang sendiri. Mulai dari menulis konten, desain, membenahi website, melayani klien, memikirkan strategi, sampai follow up tim satu per satu.
Hari-hari terlihat sangat sibuk. Sangat produktif.
Tapi setelah direnungkan, saya menyadari sesuatu yang cukup menampar: Saya sibuk, tapi bisnis saya tidak bertumbuh secepat yang seharusnya.
Saya habis energi di pekerjaan teknis yang berulang. Saya berputar di situ-situ saja. Tidak ada ruang untuk berpikir jangka panjang. Tidak ada waktu untuk melihat peluang baru. Tidak ada waktu benar-benar memikirkan arah bisnis.
Saya seperti operator di bisnis yang saya bangun sendiri. Bukan pemimpinnya.
Dari situ saya mulai mencari jawaban. Membaca, merenung, dan mencoba melihat ulang peran saya yang sebenarnya.
Ternyata, tugas seorang CEO bukanlah mengerjakan semua hal. Justru sebaliknya. CEO harus berhenti mengerjakan banyak hal, agar bisa fokus pada hal yang paling penting.
Saya menemukan bahwa inti peran CEO itu sebenarnya sangat sederhana. Hanya tiga hal:
Vision – Growth – People
Vision, memastikan bisnis ini mau dibawa ke mana.
Bukan hanya hari ini atau minggu ini, tapi beberapa tahun ke depan. Tanpa arah yang jelas, tim akan sibuk, bisnis akan berjalan, tapi tidak pernah benar-benar sampai ke tujuan.
Growth, memikirkan bagaimana bisnis ini bertumbuh.
Dari mana klien baru datang, bagaimana value naik, bagaimana sistem makin rapi dan efisien. Pertumbuhan tidak pernah lahir dari orang yang tenggelam di teknis. Pertumbuhan lahir dari orang yang punya ruang untuk berpikir.
People, membangun orang.
Bukan menggantikan peran mereka. Di sinilah saya paling sering keliru. Saya sibuk mengerjakan banyak hal, padahal seharusnya saya sibuk menyiapkan tim agar mereka yang mengerjakan banyak hal.
Perlahan saya belajar melepas. Mendelegasikan. Merapikan sistem. Mengurangi peran teknis saya.
Awalnya memang tidak nyaman. Terasa lebih lama. Terasa lebih ribet.
Tapi di situ saya mulai merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: ruang berpikir.
Dan di situlah saya merasa kembali tugas utama menjadi CEO.
Bukan orang yang paling sibuk di perusahaan, tapi orang yang paling menjaga arah perusahaan.
Sebenarnya, inti peran itu hanya tiga poin saja. Terlihat sangat sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk sesuatu yang kita sebut sebagai “tugas seorang CEO”.
Tapi justru karena terlihat sederhana, praktiknya di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.
Menjalankan bisnis bukan seperti menjalankan teori di atas kertas. Selalu ada hal-hal di luar rencana yang sudah kita susun rapi. Ada klien yang butuh perhatian mendadak. Ada tim yang butuh arahan cepat. Ada masalah teknis yang muncul tiba-tiba. Ada urusan pribadi yang ikut menyita fokus.
Dan tanpa sadar, kita kembali turun mengerjakan hal-hal yang sebenarnya sudah ingin kita lepaskan.
Seolah-olah realita bisnis selalu menarik kita kembali menjadi “operator”.
Namun, di tengah semua dinamika itu, ada satu hal yang pasti.
Selama kita mau terus belajar, mau terus mengevaluasi diri, dan tetap bergerak memperbaiki cara kerja, perlahan kita akan menemukan ritme yang tepat untuk bisnis yang sedang kita bangun.
Ritme di mana tidak semua hal harus kita kerjakan sendiri.
Ritme di mana tidak semua keputusan harus kita pegang sendiri.
Ritme di mana kita mulai percaya pada sistem dan pada tim.
Di fase itu, pelan-pelan setiap anggota tim mulai memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Koordinasi menjadi lebih ringan. Komunikasi menjadi lebih jelas. Dan sistem yang sudah kita bentuk mulai bisa berjalan dengan baik, tanpa harus selalu diawasi setiap saat.
Kita tidak lagi sibuk memadamkan api kecil di sana-sini.
Kita mulai punya ruang untuk kembali memikirkan hal yang lebih besar: arah, pertumbuhan, dan pengembangan orang-orang di dalamnya.
Karena pada akhirnya, bisnis tidak tumbuh karena kita bekerja lebih keras. Bisnis tumbuh ketika kita berpikir lebih benar. Dan itu hanya bisa terjadi ketika kita fokus pada tiga hal: Vision, Growth, dan People.
Baca juga : Di Balik Pertumbuhan Bisnis, Ada Rasa Takut yang Tak Pernah Diceritakan
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca sampai habis, semoga ada hal bermanfaat bisa kamu ambil. Sukses untuk Anda semua, dan see you on the top…

