web counters
Ketika Saya Tidak Mengejar Waktu di Jalan Madiun–Jogja
Mindfulness, Stories

Ketika Saya Tidak Mengejar Waktu di Jalan Madiun–Jogja

Perjalanan yang lebih lama, tapi justru membuat tubuh lebih ringan dan pikiran lebih tenang

Jika melihat Google Maps, perjalanan Madiun–Jogja biasanya ditempuh sekitar 3,5 hingga 4 jam dengan mobil. Jalurnya jelas, estimasinya pun pasti. Tinggal gas sedikit, fokus, dan sampai.

Namun beberapa waktu lalu, saat hendak meeting dengan klien, perjalanan itu justru memakan waktu hampir enam jam. Baik saat berangkat maupun pulang. Ini bukan pertama kalinya saya menempuh rute ini dengan mobil pribadi, ini sudah kedua kalinya. Tapi dari perjalanan kali ini, saya pulang membawa cerita dan makna yang berbeda. Bukan hanya soal perjalanan dan hasil meeting pekerjaan.

Saya sengaja berkendara dengan santai. Tidak tergesa-gesa. Tidak memaksa waktu. Tidak mengejar target tiba secepat mungkin. Saya memilih menikmati setiap ruas jalan, setiap jeda, dan setiap tarikan napas di balik kemudi. Disetiap jalan, selalu ada suara bel truk atau mobil lain. Pemandangan yang tak kalah indah saat melintasi jalan wonogiri, dimana banyak perbukitan dan persawahan. Tak lupa, di depan kami ada seorang yang baru berangkat mancing, di pukul 7.00.

Suasana itulah yang menemani perjalanan saya, sambil ngobrol santai dengan Mas Dodo, selaku team yang menemani saya saat meeting dengan klien di jogja.

Menariknya, di akhir perjalanan saya justru merasa lebih ringan. Tidak mengantuk. Tidak terlalu lelah. Tubuh terasa lebih segar, pikiran lebih tenang. Mobil pun terasa lebih nyaman diajak bekerja sama.

Dari situ saya berpikir, mungkin inilah salah satu cara sederhana agar semuanya lebih awet bukan hanya mesin, tapi juga diri sendiri.

Perjalanan itu membuat saya sejenak tersadar. Betapa seringnya kita lupa menjalani momen yang sedang kita jalani. Kita terlalu sibuk mengejar masa depan, sampai lupa bahwa hidup hanya benar-benar terjadi di saat ini, kini, dan sekarang.

Tubuh kita hadir di masa sekarang, tetapi pikiran sering tertinggal di masa lalu atau melompat terlalu jauh ke masa depan. Kita ingin cepat sampai, seolah-olah tujuan akhir jauh lebih penting daripada perjalanan itu sendiri. Padahal, tanpa perjalanan, tujuan tidak akan pernah ada.

Menikmati momen saat ini, tanpa terburu-buru sampai ke tujuan, mungkin adalah keterampilan hidup yang jarang kita sadari.

Kita hidup di zaman yang mengagungkan kecepatan.
Semakin sibuk, semakin terlihat bernilai.
Semakin lelah, semakin dianggap sedang berjuang menuju sukses.

Tanpa sadar, kita ikut dalam arus itu. Kita menaikkan ritme kerja keras demi satu kata yang terus dikejar: sukses.

Kita menyusun target, mengejar pencapaian, dan menaruh harapan besar di puncak yang bahkan belum tentu kita pahami maknanya. Seolah hidup adalah perlombaan, dan berhenti sejenak dianggap sebagai kemunduran.

Padahal, belum tentu puncak itu benar-benar ingin kita tuju.
Belum tentu ritmenya cocok dengan napas kita.
Belum tentu definisinya sejalan dengan kebutuhan jiwa kita.

Di tengah upaya membangun masa depan, kita sering lupa hadir di masa kini. Kita ingin membahagiakan keluarga, namun kehadiran kita lebih sering terwakili oleh pesan singkat dan janji “nanti kalau sudah senggang”. Kita jarang benar-benar duduk bersama tanpa gangguan. Mendengarkan tanpa tergesa. Bertukar cerita tanpa dihantui pikiran tentang pekerjaan yang belum selesai.

Ironisnya, semua itu dilakukan atas nama cinta dan tanggung jawab.

Kita juga mendambakan hidup yang berkualitas. Hidup yang tenang, seimbang, dan bermakna. Namun perlahan, kita membiasakan ritme yang justru menjauhkan kita dari itu semua: lembur yang dinormalisasi, istirahat yang dikorbankan, dan tubuh yang dipaksa terus kuat.

Kita ingin sampai, tapi lupa bahwa perjalanan yang terlalu melelahkan bisa membuat kita kehilangan diri sendiri sebelum tujuan tercapai.

Barangkali masalahnya bukan pada mimpi yang kita kejar, melainkan pada cara kita berjalan menuju ke sana.

Mungkin, sesekali yang kita butuhkan bukan menambah kecepatan, melainkan keberanian untuk memperlambat langkah. Memberi jeda. Memberi ruang bernapas. Mengizinkan diri menikmati proses, sekecil apa pun kemajuannya.

Karena hidup bukan hanya soal tiba di tujuan, tapi tentang bagaimana kita hadir di setiap langkah. Tentang apakah kita masih bisa merasakan, mensyukuri, dan mengenali diri sendiri di tengah perjalanan.

Dan pada akhirnya, sampai yang paling penting bukan hanya soal kesuksesan di luar.
Melainkan saat kita bisa berkata: aku sampai ke tujuan, tanpa kehilangan diriku sendiri.

Itulah pelajaran berharga, yang saya dapatkan dari perjalanan madiun – jogja saat mau meeting dengan klien saya tersebut. Terimakasih sudah membaca sampai habis, sukses untuk Anda semua dan see you on the top…

0Shares