Malam yang Sunyi, Bersama Kenikmatannya
“Barang siapa yang sanggup berlama-lama tidak tidur di malam hari, maka hatinya akan merasa bahagia di siang hari” – Kitab Ta’lim al-Muta’allim
Bintang dan bulan sering kali menjadi simbol paling sederhana tentang keindahan malam. Ia hadir tanpa suara, tanpa sorot yang memaksa. Meski gelap dan hitam, malam tidak pernah benar-benar kosong.
Semesta justru memperlihatkan keindahannya dengan cara yang lebih pelan, lebih halus, dan sering kali luput dari perhatian mereka yang terlalu sibuk dengan terang.
Malam juga identik dengan sunyi. Sepi. Tenang. Sebuah kondisi yang bagi sebagian orang terasa menakutkan, namun bagi sebagian lainnya justru menenangkan.
Di kesunyian itulah pikiran memiliki ruang untuk bernapas. Tidak ada tuntutan, tidak ada keramaian, tidak ada hiruk-pikuk yang memaksa kita menjadi apa-apa. Hanya ada diri sendiri, dan kejujuran yang pelan-pelan muncul ke permukaan.
Baca juga : Dengan Menyendiri, Kita Bisa Menyelam Lebih Dalam Tentang Diri Sendiri
Dalam ajaran Islam, malam memiliki posisi yang istimewa. Banyak kitab dan nasihat ulama terdahulu yang menganjurkan untuk mengurangi tidur dan memperbanyak waktu terjaga.
Bukan untuk menyiksa diri, tetapi untuk menjaga kesadaran. Tidur secukupnya, lalu menggunakan sisa malam untuk mendekat, merenung, dan menata ulang arah kehidupan. Malam menjadi waktu yang jujur, saat doa lebih lirih, pikiran lebih bening, dan hati lebih mudah disentuh.
Sholat tahajud di sepertiga malam merupakan salah satu amalan yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak riwayat, beliau dikenal sebagai pribadi yang tidak menyia-nyiakan malamnya. Saat sebagian besar manusia terlelap dalam tidur, Rasulullah justru memilih untuk bangun, berdiri dalam sholat, dan bermunajat dalam keheningan.
Bukan karena beliau tidak lelah. Justru karena beliau memahami bahwa malam menyimpan ruang kedekatan yang berbeda, ruang yang sulit ditemukan di siang hari yang penuh hiruk-pikuk.
Tahajud bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan bentuk kehadiran penuh seorang hamba di hadapan Tuhannya. Dalam diam, dalam sunyi, tanpa perlu disaksikan siapa pun.
Al-Qur’an pun menggambarkan ciri orang-orang yang bertakwa dengan sangat lembut namun tegas. Mereka bukanlah orang-orang yang sepenuhnya meninggalkan tidur, tetapi mereka tidak larut di dalamnya. Mereka memilih untuk “menyisihkan” sebagian kecil dari malamnya, untuk sadar, untuk ingat, dan untuk kembali merendahkan diri kepada Rabnya.
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan mata air.
Mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka.
Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.
Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam,
dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” –
(QS. Az-Zariyat: 15–18)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang balasan di akhirat, tetapi juga tentang kebiasaan kecil yang dibangun di dunia. Tentang orang-orang yang di penghujung malamnya memilih untuk memohon ampun, saat ego sedang rendah dan hati lebih mudah jujur. Saat tidak ada topeng, tidak ada sorotan, hanya pengakuan seorang manusia yang sadar akan keterbatasannya.
Mungkin kita belum mampu seperti Rasulullah. Mungkin belum sanggup konsisten bangun setiap malam. Namun bahkan menyadari nilai dari sepertiga malam saja sudah merupakan langkah awal yang baik. Bahwa malam bukan hanya waktu untuk beristirahat, tetapi juga kesempatan untuk pulang, menata ulang niat, membersihkan hati, dan memperbaiki arah.
Hadir di malam hari mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri. Tentang nikmat yang sering terlewat untuk disyukuri. Tentang langkah-langkah yang sudah kita tempuh. Tentang arah hidup yang sedang kita jalani, apakah semakin mendekat pada kebaikan? atau justru semakin jauh tanpa kita sadari?
Pertanyaan-pertanyaan itu jarang muncul di siang hari yang penuh distraksi, namun pelan-pelan datang di malam yang sunyi.
Bagi saya, malam adalah momen paling manusiawi.
Waktu ketika saya bisa berhenti sejenak dari keinginan untuk mengendalikan segalanya, karena banyak hal di luar kontrol saya.
Duduk dalam diam, menarik napas panjang, dan membiarkan pikiran berjalan tanpa harus dikejar target. Udara yang dingin, suasana yang sepi dan damai, menjadi teman yang setia bagi kesendirian. Tidak ada yang harus dibuktikan, tidak ada yang perlu ditampilkan.
Dalam keheningan malam, saya belajar bahwa hidup tidak selalu harus keras. Tidak selalu harus cepat. Ada fase-fase di mana kita justru perlu melambat, menunduk, dan mendengarkan.
Alam semesta, dengan segala kebesarannya, seolah mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari skenario besar yang telah disusun dengan begitu rapi.
Kesunyian tidak lagi terasa sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang aman untuk pulang, kepada diri sendiri, dan kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Malam tidak menuntut apa pun. Ia hanya menawarkan ruang. Ruang untuk jujur, ruang untuk merendah, ruang untuk memohon ampun, dan ruang untuk kembali menata arah.
Dan siapa pun yang berani hadir di ruang itu meski hanya sebentar akan merasakan dampaknya di siang hari. Hati menjadi lebih ringan, langkah terasa lebih tenang, dan hidup tak lagi sekadar tentang mengejar, tetapi juga tentang memahami.
Inilah yang sering saya rasakan, sering kali terjaga di malam hari. Anehnya segi emosional lebih tertata, tenang dan begitu ringan.
Mungkin kita tidak selalu sanggup terjaga lama seperti Rosulullah. Tidak selalu mampu konsisten untuk sujud kepada Sang Maha Kehidupan. Namun setiap niat untuk mendekat, setiap usaha kecil di sepertiga malam, adalah bukti bahwa kita masih ingin pulang. Pulang kepada kesadaran, kepada ketenangan, dan kepada Tuhan yang Maha Mengetahui isi hati.
Dan di sanalah, pelan-pelan, kita belajar bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang harus dikejar jauh. Ia sering kali menunggu dengan sabar di malam yang sunyi, saat kita berani berhenti dan hadir sepenuhnya.
Baca juga : Kesendirian, Kenikmatan dan Ketenangan
Terima kasih sudah membaca sampai habis, semoga ada hal baik yang bisa kamu ambil. Sekian dan see you on the top…

