web counters
Mindfulness, Self Awareness

Studi Membuktikan: Menulis Bisa Membuatmu Lebih Cerdas Secara Emosional

Sejak tahun 2019, saya punya kebiasaan sederhana yang sangat berdampak besar dalam kehidupan saya yaitu : menulis jurnal setiap hari. Dan bisa dikatakan 365 hari dalam 1 tahun, 95% saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan.

Awalnya, ini hanya cara saya melampiaskan perasaan yang seringkali tidak bisa saya ceritakan. Tapi semakin ke sini, saya mulai sadar bahwa kebiasaan ini menjadi semacam “teman” yang setia mendengarkan, tanpa menghakimi.

Lewat jurnal, saya bisa merefleksikan diri, mengenal pikiran saya yang paling dalam, dan melepaskan berbagai emosi negatif dalam bentuk tulisan. Yang awalnya terasa seperti benang kusut di kepala, keruwetan, kecemasan, kegelisahan, perlahan-lahan mulai terurai, berubah menjadi sesuatu yang lebih jelas dan tertata. Pikiran jadi lebih jernih, dan emosi lebih stabil.

Baca juga : Kalau Sedang Stres, Menulislah!

Menulis Itu Bisa Menyembuhkan

Buat sebagian orang, journaling mungkin terdengar sepele dan terkesan alay. Tapi bagi mereka yang sedang berjuang dengan stres, kecemasan, bahkan depresi, kegiatan ini bisa menjadi alat penyembuh. Bukan obat yang instan, tapi terapi pelan-pelan yang menenangkan.

Sebuah studi oleh Joshua Smyth tahun 1999 menyebutkan bahwa menulis curahan hati secara rutin membantu individu mengelola stres kronis. Bahkan, ditemukan penurunan signifikan pada gejala stres dan depresi. Artinya, ada kekuatan nyata dalam proses sederhana ini, menulis bisa menjadi proses penyembuhan mental.

Dalam studi lain yang diterbitkan di JMIR Mental Health tahun 2018, peserta yang menulis jurnal selama 15 menit, tiga hari seminggu, selama 12 minggu, mengalami peningkatan kesejahteraan emosional yang signifikan. Bahkan setelah satu bulan, gejala depresi mereka menurun, dan perasaan “well-being” terus meningkat seiring waktu.

Mengelola Emosi Lewat Kata-kata

Kamu pasti setuju, bahwa hidup ini nggak pernah lepas dari emosi. Kita semua sering merasa kecewa, marah, takut, sedih, atau bingung. Masalahnya, kalau semua perasaan itu disimpan sendiri, menjadi bom waktu, yang lama-lama bisa meledak. Dan kalau sudah meledak, seringkali yang jadi korban bukan hanya diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar kita.

Menulis jurnal membantu kita mengelola, bukan menekan emosi. Dengan menulis, kita mengakui apa yang sedang kita rasakan. Kita belajar jujur, belajar menerima bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. Di saat yang sama, kita juga membuka ruang untuk berdamai dan mencari makna dari perasaan itu sendiri.

Journaling: Proses Mengenal Diri yang Sesungguhnya

Buat saya pribadi, journaling bukan hanya soal menulis dan merangkai kata. Ini adalah proses menyelam ke dalam diri.

Saat menulis, saya bisa berdialog dengan diri saya sendiri, bertanya, “Kamu sebenarnya kenapa?“, “Apa yang sedang kamu takutkan?“, atau bahkan sekadar, “Apa kabar, diri sendiri?

Semakin sering saya menulis, semakin saya memahami siapa saya. Apa nilai yang saya pegang. Apa luka yang belum sembuh. Apa mimpi yang selama ini saya abaikan. Dari sinilah proses pertumbuhan pribadi terjadi, karena tidak ada pertumbuhan tanpa pemahaman.

Semakin seseorang mengenal dirinya, semakin dia tahu arah hidup yang ingin dia tuju. Dia menjadi lebih bijak dalam membuat keputusan, dan lebih tenang saat menghadapi ketidakpastian.

Baca juga : Kenapa Harus Mengenal Diri Sendiri?

Ide Brilian Lahir dari Menulis

Satu hal lagi yang saya syukuri dari kebiasaan journaling adalah banyak ide cemerlang yang muncul justru saat saya sedang menulis. Pikiran yang tadinya berkabut tiba-tiba bisa memberi kejutan. Saya pernah mendapatkan solusi dari masalah pekerjaan, inspirasi bisnis, bahkan gagasan untuk proyek kreatif, semuanya saat saya sedang menulis jurnal.

Dan karena saya menuliskannya, ide tersebut tidak hilang. Ia tersimpan, bisa saya kembangkan, dan suatu saat bisa diwujudkan. Inilah salah satu alasan kenapa sampai sekarang journaling masih menjadi kebiasaan harian saya.

Menulis Itu Mengabadikan Momen

Ada satu lagi yang bikin journaling terasa spesial, saya bisa melihat kembali catatan-catatan lama. Membuka lembar demi lembar, dan membaca kembali cerita-cerita kehidupan saya di masa lalu. Kadang saya tersenyum geli membaca curhatan sendiri. Kadang saya merasa bangga karena berhasil melewati masa sulit.

Dan kadang, saya menemukan pelajaran yang sangat dalam dari kesalahan-kesalahan saya dulu. Karena, bagi saya setiap cerita kehidupan adalah pembelajaran yang begitu berharga, sangat sayang sekali kalau tidak di abadikan.

Menulis adalah cara saya berdamai dengan masa lalu. Ini semacam arsip kehidupan yang penuh makna. Dari sana, saya belajar untuk lebih berhati-hati di masa depan, tanpa perlu menyesali apa yang sudah terjadi.

Baca juga : Menulis Jurnal Harian Sebagai Cermin, untuk Mengenal Diri secara Mendalam

Mulailah Hari Ini

Kalau kamu membaca tulisan ini dan merasa hidupmu terlalu padat, penuh tekanan, atau kamu sering merasa tidak baik-baik saja, coba deh mulai menulis jurnal.

Nggak perlu pakai bahasa indah. Nggak harus rapi atau penuh gaya. Yang penting jujur.

Tulis saja apa pun yang kamu rasakan. Mau pakai buku tulis biasa, notes digital, atau aplikasi khusus journaling, semuanya oke. Yang terpenting, kamu mulai.

Journaling bukan untuk orang lain. Ini adalah hadiah untuk dirimu sendiri.

Hadiah berupa ketenangan, kejelasan pikiran, dan pemahaman yang lebih dalam tentang siapa dirimu sebenarnya.

Terima kasih sudah membaca sampai habis, semoga bermanfaat. Sukses untuk Anda semua dan see you on the top…

0Shares