Sumatra Tenggelam, Negeri Terluka : Bencana Ini Berbicara Lebih Jujur dari Para Pemimpin
Saya berada di Pulau Jawa ketika melihat berita tentang banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatra. Ada rasa sesak di dada saat melihat video dan foto-foto yang beredar: rumah-rumah tersapu arus, jalan-jalan berubah menjadi sungai, dan masyarakat berlarian menyelamatkan diri.
Bencana kali ini bukan hanya besar, tetapi juga meninggalkan luka yang begitu dalam. Belum sepenuhnya sembuh bencana tsunami aceh 2004, kini Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Aceh mendapatkan bencana banjir dan tanah longsong begitu besar.
Banyak warga kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, bahkan kehilangan orang yang mereka cintai. Dari jauh, saya hanya bisa ikut berduka dan berdoa.
Semoga masyarakat di sana diberi kekuatan, kesabaran, dan perlindungan dari Tuhan. Setiap bencana selalu meninggalkan cerita tentang kehilangan, tapi juga tentang keteguhan hati manusia. Saya berharap mereka diberi jalan untuk bangkit kembali, meski itu memang berat.

Yang membuat saya benar-benar miris—dan mungkin kamu juga merasakannya—adalah kenyataan bahwa bencana seperti ini sering kali bukan sepenuhnya bencana alam. Ada jejak tangan manusia di balik semua ini. Hutan ditebang sesuka hati, sungai disempitkan, tanah dikeruk tanpa kendali. Kita ingin hidup aman, nyaman, dan sejahtera, tapi sering lupa bahwa bumi punya batas. Lupa bahwa alam yang terus kita rusak pada akhirnya akan menagih balasan.
Bencana banjir dan longsor di Sumatra menjadi saksi nyata. Kayu-kayu glondongan berukuran besar hanyut bersama arus, menyapu rumah-rumah warga. Jembatan yang kokoh pun ikut terhempas oleh derasnya air. Ini bukan sekadar bencana biasa. Ini adalah hasil dari kerakusan manusia—menggunduli hutan demi proyek kelapa sawit dan pertambangan. Sedih rasanya melihat Sumatra hancur seperti ini.
Hutan digunduli, keuntungan masuk ke segelintir orang, sementara masyarakat kecil yang tidak tahu apa-apa harus menanggung akibatnya. Mereka yang tinggal di lereng, di pinggir sungai, atau di desa terpencil menjadi korban dari keputusan yang tidak pernah mereka buat.
Sebagai warga negara, saya juga merasa kecewa dengan pemerintah. Banyak kebijakan lahir bukan untuk melindungi rakyat kecil, tapi lebih menguntungkan kelompok tertentu. Rasanya seperti ketika sudah duduk di kursi kekuasaan, mereka bisa membuat aturan sesuka hati tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Dan ketika bencana datang, lagi-lagi masyarakat kecil yang harus menanggung derita.
Pemerintah sering menggaungkan kesejahteraan, tapi kenyataannya justru membuat rakyat semakin sulit. Entahlah… masyarakat kecil seperti kita ini harus mengadu kepada siapa? Pemerintahan saat ini seakan buta dan haus akan kekuasaan—mementingkan ego dan kepentingan diri sendiri. Dan ini bukan hanya terjadi di Sumatra. Di berbagai provinsi, banyak pejabat negeri yang duduk nyaman sambil menutup mata terhadap kesejahteraan rakyatnya.
Sumatra, dengan banjir bandang dan tanah longsornya, menjadi bukti paling jelas bahwa ketika ekosistem hutan dirusak, daya serap air saat hujan menjadi sangat minim. Air yang seharusnya ditahan oleh akar-akar pohon kini langsung meluncur deras ke permukiman warga. Semua ini terjadi karena kebijakan yang tidak dipikirkan matang-matang—kebijakan yang mengabaikan keseimbangan alam demi pembukaan lahan sawit dan tambang.
Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan pernah sampai ke telinga mereka yang memiliki wewenang atau tidak. Namun dengan segala keterbatasan yang saya punya, inilah bentuk cinta saya kepada Indonesia—menyuarakan apa yang seharusnya disuarakan, meski mungkin tidak ada yang mendengar.
Jika pun tulisan ini dibaca, saya harus jujur bahwa harapan untuk perubahan besar saat ini terasa sangat kecil. Di pemerintahan sekarang saya agak pesimis. Terlalu banyak kerusakan di dalam tubuh negara ini yang tidak diperbaiki, dan terlalu banyak hal yang membuat saya ragu bahwa transformasi besar bisa terjadi dalam waktu dekat.
Tetapi saya masih menyimpan harapan untuk kamu yang membaca tulisan ini—kamu yang saat ini berusia 20–30 tahun. Harapan saya ada pada generasi millennial dan Gen Z. Generasi yang kelak akan memegang kendali, mengambil keputusan, dan memimpin negeri ini. Saya berharap kalian bisa menjadi pemimpin yang jujur, amanah, dan bijaksana. Pemimpin yang mampu mengelola emosi, menjaga integritas, dan berpikir dengan jernih. Bukan pemimpin yang digerakkan oleh ambisi, nafsu kekuasaan, atau keserakahan.
Jadilah pemimpin yang adil—bukan pemimpin yang hanya terlihat hebat di depan kamera. Karena negeri ini butuh lebih dari sekadar pencitraan: negeri ini butuh kejujuran, keberanian, dan hati yang tulus melayani.
Mungkin ini hanyalah bentuk kecil dari harapan saya untuk masa depan Indonesia. Karena jujur saja, saya sudah tidak terlalu berharap pada pemimpin hari ini. Terlalu banyak alasan yang membuat saya merasa mereka tidak sungguh-sungguh ingin berbenah. Tapi saya tetap percaya pada generasi berikutnya—anak-anak muda yang sekarang sedang belajar, bekerja keras, tumbuh, dan suatu hari nanti akan duduk di posisi yang menentukan arah bangsa.
Kalau perubahan besar tidak bisa datang dari pemimpin saat ini, semoga perubahan itu lahir dari kalian. Dari kita semua. Dari orang-orang yang masih punya hati, kesadaran, dan kejernihan untuk menjaga Indonesia dengan penuh cinta.
Mencintai Indonesia bukan hanya soal bangga pada tanah air, tetapi juga berani mengkritik, berani peduli, dan berani berharap bahwa negeri ini pantas mendapatkan yang lebih baik.
Dan bagi kita yang belum bisa membantu secara langsung terhadap bencana banjir di Sumatra, setidaknya kita bisa ikut meringankan beban mereka dengan doa dan bantuan, meskipun hanya Rp10.000. Ini bukan soal besar atau kecilnya nominal, tapi soal kepedulian kita sebagai sesama anak bangsa—untuk saling menguatkan di tengah kesulitan. Kita hidup di bumi pertiwi yang sama, dan kita ingin melihat negeri ini bangkit dan membaik.
Maka, mungkin inilah langkah kecil yang bisa kita ambil: menyisihkan sedikit dari apa yang kita punya untuk membantu saudara-saudara kita di Sumatra.
Terima kasih untuk kamu yang sudah membaca sampai habis.


