web counters
Momen Lebaran & Foto Keluarga di Media Sosial
Mindfulness, Stories

Momen Lebaran & Foto Keluarga di Media Sosial : Berbagi Kebahagiaan atau Pencarian Validasi?

  • “Apakah aku membagikan ini karena benar-benar ingin berbagi kebahagiaan?”
  • “Atau, jangan-jangan aku butuh pengakuan karena merasa kurang diperhatikan?”

Di beranda media sosial ku baik di whatsapp, instagram, facebook maupun tiktok, lagi tren foto bersama keluarga di momen Lebaran. Setiap sudut media sosial dipenuhi senyum, kebersamaan, dan kehangatan. Ada yang berpose klasik di depan rumah, ada yang bergaya kasual dengan latar halaman, bahkan ada juga yang mengedit foto keluarganya menjadi ilustrasi ala Ghibli dengan bantuan AI.

Ya, melihat itu semua, saya ikut senang. Rasanya ada energi positif yang mengalir dari setiap unggahan. Kebahagiaan yang terekam dalam gambar-gambar itu seperti menjadi bukti nyata betapa luar biasanya rahmat Allah SWT setelah bulan Ramadan.

Namun, di balik euforia berbagi momen bahagia ini, ada fenomena yang membuat saya berpikir sejenak: “Sebenarnya, apa tujuan kebanyakan orang membagikan foto keluarga mereka di media sosial?

Tentu, ini bukan urusan saya sih untuk menilai niat orang lain, berbagi foto di sosial media. Saya berpikir positif thinking aja, bahwa bisa jadi niat mereka memang murni ingin berbagi kebahagiaan, membangun kenangan, atau sekadar ingin menunjukkan betapa berharganya momen berkumpul bersama keluarga. Dan kalau itu hal yang baik, tentu tidak ada masalah.

Namun, ada sisi lain yang membuat saya berpikir lebih dalam dan patut untuk direnungkan. Bisa jadi, ada juga yang membagikan foto ini karena dorongan batin yang berbeda, mungkin ada rasa sepi yang tak disadari, mungkin juga ada keinginan untuk mendapatkan validasi.

Coba, sejenak mari kita merefleksikan diri :

  • Jangan-jangan, tanpa sadar saat berbagi momen lebaran kita berharap mendapatkan apresiasi? Menunggu notifikasi like dan komentar yang menghangatkan hati.
  • Jangan-jangan, jauh di dalam diri, ada kekosongan batin yang ingin kita isi dengan pengakuan dari orang lain?
  • Ketika orang lain melihat foto kita, apakah mereka benar-benar turut bahagia, atau sekadar scroll lalu terlupakan begitu saja?
  • Bagaimana perasaan kita sendiri saat melihat unggahan serupa dari orang lain? Apakah ikut senang, biasa saja, atau justru ada sedikit rasa iri karena membanding-bandingkan?

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa media sosial seringkali menjadi tempat pelarian saat batin merasa kosong. Kita mungkin terjebak dalam siklus Semakin banyak yang like, semakin bahagia. Padahal, kebahagiaan sejati tidak seharusnya bergantung pada validasi orang lain.

Hal-hal kecil seperti ini sering kali luput dari kesadaran kita. Tapi, pada akhirnya, hanya diri kita sendiri yang benar-benar tahu jawabannya. Apa pun alasan kita membagikan sesuatu di media sosial, yang terpenting adalah kejujuran dan kesadaran pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar berbagi kebahagiaan? Atau ada sesuatu di baliknya yang perlu kita pahami lebih dalam?

Media sosial hanyalah alat. Kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak like atau komentar yang kita dapat, melainkan dari seberapa tulus kita mensyukuri momen kebersamaan dengan keluarga. Lebaran adalah tentang silaturahmi, saling memaafkan, dan menguatkan ikatan bukan tentang seberapa aesthetic foto kita di WhatsApp atau Instagram.

Hasil penelitian dari Psychology Today, menunjukan bahwa, penggunaan media sosial yang berlebihan hanya untuk mencari validasi dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara sadar dan seimbang.

Sebelum mengunggah, ada baiknya sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: Apa niatku sebenarnya? Karena, pada akhirnya, kebahagiaan yang tulus datang dari dalam, bukan dari pujian orang.

Baca juga : Kebahagiaan Terletak di Saat yang Sekarang, Bukan Di Masa Depan

Terima kasih sudah membaca sampai habis, sukses selalu dan see you on the top…

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *