Emosi Dalam Diri, Ternyata Ikut Mempengaruhi Datangnya Rezeki
Saat saya membuka notifikasi mBCA di ponsel. Tiba-tiba ada pemberitahuan transfer masuk sebesar 2 juta rupiah. Tidak lama berselang, muncul lagi notifikasi transfer sebesar 500 ribu. Sore harinya, ada lagi transfer sebesar 800 ribu.
Dalam satu hari saja, ada lebih dari tiga transaksi yang masuk secara beruntun.
Namun yang menarik, kondisi seperti ini tidak terjadi setiap hari. Ada hari-hari lain di mana rekening terasa begitu sepi. Bahkan bukan hanya satu atau dua hari, kadang sampai berminggu-minggu tidak ada transaksi sama sekali.
Dari situ saya mulai memperhatikan pola yang cukup aneh.
Kadang transaksi terasa deras sekali, tapi di waktu lain justru benar-benar kosong.
Pertanyaan pun mulai muncul di kepala saya.
“Kenapa ya bisa seperti ini? Kenapa ada masa di mana transaksi datang beruntun, tapi di masa lain justru terasa seret?”
Awalnya saya menganggap ini hal yang biasa saja. Mungkin hanya soal timing proyek atau kondisi pasar. Namun semakin lama saya memperhatikan, semakin terasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar faktor eksternal.
Lalu saya mulai menyadari satu hal yang cukup menarik.
Setiap kali saya berada dalam kondisi emosional yang baik—hati terasa ringan, pikiran lebih tenang, dan perasaan dipenuhi rasa syukur—proses menutup sebuah proyek dengan klien terasa jauh lebih mudah.
Percakapan terasa lebih mengalir.
Diskusi berjalan lebih hangat.
Keputusan sering kali diambil dengan cepat.
Seakan semuanya berjalan secara alami.
Namun kondisi itu berubah ketika saya sedang berada dalam keadaan emosional yang kurang stabil. Ketika pikiran dipenuhi rasa ragu, takut, atau cemas tentang masa depan.
Pada saat-saat seperti itu, segalanya terasa lebih berat.
Proses komunikasi dengan klien menjadi lebih kaku.
Diskusi terasa berputar-putar.
Keputusan menjadi lebih lama diambil.
Bahkan tidak jarang peluang yang sebelumnya terlihat sangat dekat justru berakhir tanpa hasil.
Seolah-olah rezeki yang sebelumnya mengalir tiba-tiba menjadi seret atau mampet.
Menariknya, pola ini tidak hanya terjadi sekali dua kali. Saya mengalaminya berkali-kali dalam perjalanan pekerjaan dan kehidupan saya. Dari situlah rasa penasaran saya mulai tumbuh.
Saya mulai bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah mungkin kondisi batin memang memiliki pengaruh terhadap realitas yang kita alami?”
Pertanyaan itu membawa saya pada berbagai bacaan dan pembelajaran. Sampai akhirnya saya menemukan satu konsep yang cukup sering dibahas dalam banyak literatur pengembangan diri, yaitu tentang vibrasi dan frekuensi energi manusia.
Konsep ini menjelaskan bahwa setiap manusia sebenarnya memancarkan energi melalui pikiran, emosi, dan perasaannya.
Ketika seseorang dipenuhi rasa syukur, bahagia, dan keyakinan, energi yang dipancarkan juga cenderung positif. Sebaliknya, ketika pikiran dipenuhi kecemasan, ketakutan, dan keraguan, energi yang keluar dari diri kita juga berubah.
Energi inilah yang kemudian, secara tidak langsung, memengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita.
Cara kita berbicara dengan orang lain.
Cara kita merespon situasi.
Cara kita mengambil keputusan.
Semua itu dipengaruhi oleh kondisi batin yang sedang kita rasakan.
Saya mulai melihat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami.
Ketika hati saya sedang penuh rasa syukur dan kebahagiaan, proses mendapatkan proyek dari klien terasa lebih ringan. Percakapan berjalan lebih santai, kepercayaan terbentuk dengan cepat, dan transaksi terjadi tanpa terlalu banyak tarik ulur.
Namun ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran, semuanya terasa berbeda. Saya menjadi lebih tegang, lebih banyak berpikir negatif, dan tanpa sadar itu mempengaruhi cara saya berkomunikasi.
Mungkin klien juga bisa merasakan energi tersebut.
Dari situlah saya mulai belajar satu hal yang sederhana, tetapi ternyata sangat penting: menjaga kondisi batin.
Bukan berarti kita harus selalu memaksakan diri untuk bahagia setiap saat. Karena dalam hidup, rasa lelah, khawatir, atau takut tetaplah bagian dari perjalanan manusia.
Namun setidaknya kita belajar untuk lebih sadar terhadap apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.
Belajar untuk kembali pada rasa syukur.
Belajar untuk menenangkan pikiran.
Belajar untuk mempercayai proses kehidupan.
Karena bisa jadi, rezeki bukan hanya tentang kerja keras semata.
Tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga energi dalam diri kita sendiri.
Mungkin itulah sebabnya mengapa ada masa di mana segala sesuatu terasa begitu mudah, dan ada masa lain di mana semuanya terasa lebih berat.
Bukan karena dunia sedang melawan kita.
Tetapi mungkin karena kita sedang belajar untuk kembali menata frekuensi hati kita sendiri.
Untuk memperdalam pemahaman dari kegelisahan yang saya rasakan itu, saya terus mencari berbagai referensi. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah podcast dari Kak Hairomaa yang membahas tentang frekuensi dan vibrasi di alam semesta.
Ketika pertama kali mendengarkannya, ada perasaan yang cukup unik dalam diri saya. Rasanya seperti ada bagian dari pikiran saya yang langsung mengangguk setuju. Seolah-olah berbagai penjelasan yang disampaikan dalam podcast tersebut mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini muncul di kepala saya.
Beberapa hal yang sebelumnya hanya terasa sebagai pengalaman pribadi, perlahan mulai menemukan penjelasannya. Tentang bagaimana emosi, pola pikir, dan energi yang kita pancarkan ternyata memiliki hubungan dengan realitas yang kita alami.
Jika teman-teman ingin memahami penjelasan tersebut dengan lebih lengkap, saya sangat menyarankan untuk menonton videonya di bawah ini :
Dari penjelasan tersebut, saya semakin yakin bahwa kondisi batin kita—mulai dari emosi, cara berpikir, hingga tindakan yang kita lakukan setiap hari—ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap rezeki yang datang dalam kehidupan kita.
Baca juga : Mengapa Keuangan Tidak di Ajarkan, di Dunia Pendidikan?
Mungkin selama ini kita sering mengira bahwa rezeki hanya berkaitan dengan kerja keras, strategi, atau peluang yang datang dari luar. Padahal bisa jadi, ada satu hal lain yang juga sangat menentukan: bagaimana keadaan energi dalam diri kita sendiri.
Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca artikel saya sampai habis. Semoga ada hal baik yang bisa kamu ambil. Sukses untuk Anda semua, dan see you on the top…

