Mengejar Karir & Kesuksesan Itu Bakal Sepi : Kekosongan yang Tak Terhindarkan
Ada harga mahal yang harus dibayar ketika kamu ingin benar-benar fokus membangun karier: kesepian. Ini bukan sekadar kemungkinan, ini adalah kepastian.
Banyak orang memuji semangat kerja keras, mengejar impian, dan membangun masa depan yang cemerlang. Tapi jarang yang membicarakan sisi gelap dari semua itu.
Sisi sunyi. Sisi yang tak tampak di media sosial. Sisi yang hanya bisa dirasakan diam-diam saat lampu padam dan hiruk-pikuk dunia mereda.
Saat kamu mengejar sesuatu dengan sepenuh hati, dunia seperti menjauh sedikit demi sedikit. Mungkin bukan secara fisik, tapi secara batin. Kamu mulai merasa asing, bahkan dengan orang-orang terdekatmu sendiri.
Ada ruang kosong yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Rasa hampa yang muncul begitu saja, tanpa sebab, tanpa aba-aba. Lalu kamu pun mulai bertanya, “Kenapa rasanya sepi banget, padahal semuanya kelihatan baik-baik aja?”
Punya pasangan hidup, keluarga yang mencintai, atau teman-teman yang suportif sekalipun, belum tentu cukup untuk mengisi kekosongan itu. Karena sejatinya, yang hilang bukan orang lain… tapi dirimu sendiri.
Sering kali, kita terlalu sibuk memenuhi ekspektasi dunia luar, sampai lupa untuk hadir bagi diri sendiri. Kita kehilangan arah, kehilangan koneksi, kehilangan suara hati. Kita terjebak dalam rutinitas dan pencapaian, tapi tidak pernah benar-benar duduk diam dan bertanya: “Sebenarnya, aku hidup untuk apa?”
Seperti yang ditulis oleh Ary Ginanjar dalam bukunya ESQ, kekosongan di puncak kesuksesan berasal dari jiwa yang kehilangan arah tujuan sejati. Kita terus mengejar sesuatu di luar, tapi lupa bertanya, “Apakah ini sesuai dengan jiwaku? Apakah ini sejalan dengan misiku sebagai manusia?”
Kesepian bukan karena kamu gagal bersosialisasi. Kekosongan batin juga bukan karena kamu tidak cukup produktif. Tapi karena kamu belum benar-benar terhubung ke dalam, belum menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian duniawi, tapi juga tentang koneksi spiritual yang menyatu dengan nilai-nilai kehidupan.
Dan ini yang saya pelajari dari perjalanan pribadi. Rasa sepi, rasa kosong, datang berulang-ulang. Tapi lama-kelamaan saya sadar, perasaan itu bukan musuh. Justru mereka adalah undangan. Undangan untuk pulang ke dalam diri. Untuk duduk tenang. Mendengarkan kembali suara jiwa yang selama ini tertutup kebisingan dunia luar.
Saya belajar bahwa kedamaian bukan ditemukan di puncak kesuksesan, tapi di tengah kesadaran.
Kesadaran bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat, paling kaya, atau paling sibuk. Tapi siapa yang paling hadir dalam kehidupannya.
Ketika kamu mulai menerima kekosongan itu, bukan untuk melawan atau mengusirnya, tapi untuk mendengarkannya, di situlah perubahan terjadi.
Kamu mulai menemukan makna baru.
Kamu mulai lebih jujur pada diri sendiri.
Kamu mulai menyadari bahwa perjalanan spiritual bukanlah sesuatu yang terpisah dari karier, tapi justru menjadi pondasi yang membuat semua pencapaianmu terasa utuh.
Dan dari situlah, perlahan tapi pasti, kekosongan itu akan terisi. Bukan oleh dunia luar. Tapi oleh dirimu sendiri. Dan oleh Tuhan yang selalu ada di dalam keheningan yang kamu takuti selama ini.
Baca juga : Menyadari Diri, Hadir Penuh Secara Utuh, Pada Hari ini, Saat ini dan Kini…
Kembalilah Pulang ke Dalam Dirimu & Sadari Posisimu
Jika kekosongan itu hadir dalam hidupmu, entah dalam bentuk rasa sepi, gelisah, atau hampa tanpa alasan yang jelas, jangan buru-buru mencari pelarian. Jangan langsung menyibukkan diri dengan pekerjaan, scroll media sosial berjam-jam, atau mencari validasi dari luar.
Sebaliknya, mulailah kembali masuk ke dalam dirimu.
Duduklah sejenak.
Heningkan dunia luar, dan dengarkan dunia batinmu.
Rasakan napasmu.
Rasakan keberadaanmu.
Sadari bahwa hidupmu saat ini bukan sekadar rangkaian aktivitas atau pencapaian, tapi juga perjalanan spiritual untuk kembali pada siapa dirimu sebenarnya.
Kita ini, pada dasarnya, adalah manusia yang diciptakan bukan hanya untuk sukses di dunia, tapi juga untuk terhubung dengan Pencipta. Di tengah kerasnya perjuangan karier dan ambisi, kita sering lupa bahwa fitrah kita adalah sebagai seorang hamba. Seorang insan yang butuh arah, butuh petunjuk, dan butuh kedekatan dengan Tuhan.
Ketika kita mulai menyadari posisi itu, sebagai makhluk yang lemah namun dicintai, sebagai hamba yang kadang tersesat namun selalu punya tempat untuk kembali, di situlah kekosongan mulai terasa berbeda. Ia tak lagi jadi lubang yang menakutkan, tapi justru pintu menuju keutuhan.
Kembalilah pada doa. Pada sujud yang lama kamu tinggalkan. Pada percakapan batin yang jujur. Bukan untuk mengeluh, tapi untuk menyambung kembali hubungan yang pernah terputus. Karena sesungguhnya, yang selama ini kamu cari di luar, sudah ada di dalam.
Dan ketika kamu mulai merasakan kehadiran-Nya di setiap tarikan napasmu, kamu akan tahu:
Kesepian itu bukan akhir, tapi panggilan.
Kekosongan itu bukan musibah, tapi pintu pulang.
Terima kasih sudah membaca sampai habis, sukses untuk Anda semua dan see you on the top…