web counters
Berdamai Rasa Takut
Mindfulness, Self Improvement

Rasa Takut Itu Menjadi Penunjuk Jalan, Bukan Penghalang

Journal Pertumbuhan #2 : Keberanian sejati lahir saat kita tetap melangkah, meski hati gemetar.

Jujur saja, saya adalah seorang penakut. Terutama ketika harus berhadapan dengan risiko.

Saya tumbuh sebagai seorang introvert, lebih nyaman diam, mengamati, dan memikirkan segalanya dalam kepala sebelum melangkah. Mungkin karena itulah, rasa takut sering datang tiba-tiba, tanpa permisi, lalu menetap lebih lama dari yang saya inginkan.

Bertahun-tahun lamanya, saya menganggap rasa takut sebagai musuh. Sesuatu yang harus dilawan, ditekan, atau bahkan disangkal. Saya pikir, jika ingin maju, rasa takut harus dihilangkan. Jika ingin terlihat kuat, rasa takut tidak boleh ada. Maka saya pun belajar menghindar—menunda keputusan, memilih aman, dan tetap tinggal di tempat yang saya kenal.

Namun, waktu perlahan mengubah cara pandang saya.

Saya mulai menyadari bahwa semakin saya melarikan diri dari rasa takut, semakin besar kuasanya atas diri saya. Ia tidak hilang, hanya bersembunyi. Dan suatu hari, ia muncul kembali dengan wajah yang berbeda.

Dari situlah saya belajar satu hal penting: rasa takut bukan untuk dimusuhi. Rasa takut ada untuk dipahami.

Rasa takut ternyata adalah bahasa tubuh dan jiwa. Ia memberi sinyal bahwa saya sedang berada di batas kenyamanan. Bahwa ada sesuatu yang baru, asing, dan belum pernah saya jalani. Bukan berarti saya lemah—justru berarti saya sedang bertumbuh, meski pelan.

Saya mulai melihat bahwa rasa takut adalah bagian alami dari kehidupan manusia. Setiap orang memilikinya, hanya bentuknya yang berbeda-beda. Ada yang takut gagal, takut ditolak, takut tidak cukup baik, atau takut kehilangan arah. Dan semua itu wajar.

Rasa takut bukan tanda untuk berhenti. Ia adalah undangan untuk lebih jujur pada diri sendiri. Untuk bertanya: “Apa yang sebenarnya saya lindungi? Apa yang sedang saya perjuangkan?”

Baca juga : Sedikit Keberhasilan, Membuat Semakin Percaya Diri

Dalam dunia usaha yang sedang saya geluti sekarang, rasa takut itu justru semakin sering menghampiri. Bahkan kadang datang tanpa permisi.

Jalan bisnis itu memang dipenuhi ketidakpastian. Kadang langkah kita mantap, kadang goyah, kadang berhenti karena bingung.

Saya pun mengalami hal yang sama:
Takut gagal.
Takut mengecewakan klien.
Takut proyek yang diberikan ke saya dan tim tidak selesai tepat waktu.
Takut tidak mampu memenuhi ekspektasi.

Rasa takut itu seperti bayangan yang terus mengikuti setiap langkah saya. Namun, alih-alih menghindari, saya mulai belajar mengajak rasa takut itu duduk berdampingan. Saya mendengarkannya. Saya mencari tahu apa yang ingin ia sampaikan.

Dan pelan-pelan, saya menemukan bahwa rasa takut itu sebenarnya adalah alarm.

Alarm bahwa saya sedang butuh belajar sesuatu.
Alarm bahwa saya sedang tumbuh ke level berikutnya.
Alarm bahwa ada hal penting yang perlu saya siapkan.

Saat saya mulai memandang rasa takut sebagai sahabat perjalanan, hidup terasa sedikit lebih ringan. Karena setiap kali rasa takut muncul, saya tahu bahwa saya sedang berada di jalur yang membuat saya berkembang.

Kalau dipikir-pikir, hampir semua tahap besar dalam hidup kita selalu dibarengi rasa takut.

Belajar naik motor pertama kali.
Ujian sekolah.
Tes CPNS.
Pertama kali mulai bekerja.
Pertama kali jatuh cinta.
Bahkan ketika memutuskan untuk menikah.

Selalu ada rasa takut di balik setiap langkah baru. Itu sebabnya, kalau rasa takut dibiarkan menjadi tembok besar yang menghalangi langkah kita, hidup kita tidak akan bergerak ke mana-mana. Kita stagnan. Diam di tempat. Dan perlahan-lahan, rasa takut itu justru semakin besar dan mengendalikan hidup kita.

Padahal, jika tembok itu tidak kita daki atau kita dobrak, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya menunggu di baliknya.

Cara saya menghadapi rasa takut pun perlahan berubah. Saya mulai mencari ruang-ruang belajar yang membuat saya bertumbuh.

Saya membaca buku.
Saya ikut komunitas.
Saya hadir di seminar dan workshop.
Saya bertemu orang-orang yang perspektifnya berbeda dari saya.

Ternyata, lingkungan sangat berpengaruh. Ketika saya bertemu dengan orang-orang yang lebih sukses, lebih positif, dan lebih visioner, energi mereka menular. Mereka membuat saya melihat rasa takut bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai undangan untuk naik kelas.

Dan dari situ, saya memahami satu hal penting: Keberanian itu bukan ketiadaan rasa takut — tetapi kemampuan untuk tetap melangkah meskipun takut.

Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan saya bahwa rasa takut adalah bagian dari diri kita yang tidak akan pernah benar-benar hilang. Tetapi ia bisa dijadikan teman. Bisa dijadikan penunjuk arah. Bisa dijadikan pengingat bahwa ada versi diri yang lebih baik menunggu kita di depan.

Jujur, sampai sekarang pun saya masih belajar. Masih sering takut. Masih sering ragu. Masih sering bingung. Tapi setiap hari saya mencoba berdamai dengan rasa takut itu.

Karena kalau kita ingin hidup yang lebih berarti, ingin bertumbuh, ingin membuka kesempatan yang lebih besar, tidak ada pilihan lain selain berani melangkah sambil menggandeng rasa takut itu sendiri.

Menurut saya rasa takut bukan akhir perjalanan.
Ia adalah pintu awal menuju perubahan.

Baca juga : Di Balik Pertumbuhan Bisnis, Ada Rasa Takut yang Tak Pernah Diceritakan

Terima kasih sudah membaca sampai habis, semoga ada hal manfaat yang bisa kamu dapatkan. Sukses untuk Anda semua dan see you on the top…

0Shares