Mengisi Materi Personality & Leadership di TDA Madiun
Teringat, sekitar enam tahun yang lalu, saya dipertemukan dengan sebuah buku kecil berjudul Personality Plus karya Florence Littauer. Buku itu tidak tebal, bahkan terkesan sederhana. Tapi justru dari kesederhanaannya, buku ini pelan-pelan mengubah cara saya memandang diri sendiri dan manusia lain.
Saat itu saya tidak sedang mencari jawaban besar tentang hidup. Saya hanya penasaran. Namun dari halaman demi halaman, saya mulai menyadari satu hal penting: selama ini saya hidup tanpa benar-benar mengenal diri saya sendiri.
Buku ini membantu saya melihat dengan lebih jujur—tentang kelebihan yang sering saya remehkan, kekurangan yang selama ini saya hindari, dan kebutuhan emosional yang jarang saya dengarkan.
Dari situlah perjalanan belajar saya dimulai. Bukan belajar untuk menjadi orang lain, tapi belajar untuk memahami diri sendiri. Menjadi diri yang lebih autentik.
Proses itu tidak instan. Ada banyak momen refleksi, menerima kenyataan tentang diri sendiri, dan berdamai dengan hal-hal yang sebelumnya saya anggap kelemahan. Namun justru dari proses itulah saya bertumbuh, hingga perlahan menjadi versi diri saya yang sekarang.
Baca juga : Personality Plus : Belajar Mengenal 4 Tipe Kepribadian Manusia
Enam tahun berlalu, dan saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan personal ini akan membawa saya ke titik di mana saya dipercaya membawakan materi tentang personality dan leadership di komunitas pengusaha TDA Madiun.

Saya sempat bertanya pada diri sendiri, bagaimana jadinya jika enam tahun lalu saya tidak dipertemukan dengan buku Personality Plus? Mungkin saya tidak akan berdiri di depan teman-teman TDA hari itu, berbagi tentang kepribadian manusia dan cara memimpin yang lebih manusiawi.
Buku ini tidak hanya mengajarkan saya tentang diri sendiri, tetapi juga membuka mata saya untuk memahami orang lain. Saya jadi lebih cepat beradaptasi dengan karakter yang berbeda-beda, lebih sabar dalam menghadapi respons yang tidak sama dengan saya, dan lebih sadar bahwa setiap orang membawa latar belakang emosionalnya masing-masing.

Sebagai seorang introvert, bertemu dengan orang baru bukanlah hal yang mudah. Saya butuh waktu untuk bisa merasa nyaman, ngobrol santai, dan benar-benar akrab. Namun pemahaman tentang kepribadian membuat proses itu terasa lebih ringan. Saya tidak lagi memaksakan diri menjadi orang lain, dan juga tidak menuntut orang lain untuk sama seperti saya.
Saat sesi berlangsung, saya sangat mengapresiasi teman-teman yang menyimak dengan penuh perhatian. Ketika personality test dibagikan, mereka mengerjakannya dengan serius—menjawab satu per satu dengan jujur.

Dari sana, diskusi menjadi lebih hidup. Banyak yang mulai menyadari, “Oh, pantas saja selama ini saya seperti ini,” atau “Sekarang saya paham kenapa rekan kerja saya bereaksi seperti itu.”
Dari hasil tes tersebut, ada yang tersenyum, bahkan tertawa kecil melihat kelemahan diri yang selama ini tidak mereka sadari. Namun ada juga yang tampak menolak hasilnya, seolah berkata dalam hati, “Sepertinya ini bukan saya.” Ekspresi para peserta setelah melihat gambaran dirinya sendiri memang beragam dan unik.
Saya hanya tersenyum mengamati mereka. Ada yang langsung menerima, ada pula yang butuh waktu untuk mengakui. Tapi bukan itu poin utamanya. Setidaknya, dari proses itu mereka mulai sedikit lebih paham tentang dirinya sendiri. Dan dari pemahaman kecil itulah, ke depan mereka bisa melangkah dengan lebih sadar dan lebih bijaksana.

Selama kurang lebih dua jam, sebenarnya kami tidak sedang belajar ke mana-mana. Kami hanya belajar ke dalam. Belajar mengenali diri sendiri dengan lebih jujur dan lebih dalam. Bukan hanya dari sisi luar yang terlihat oleh orang lain, tetapi dari cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara merespons tekanan, hingga cara mengelola emosi.
Baca juga : Kebutuhan Emosional Berbagai Tipe Kepribadian / Temperamen (Personality Plus)
Memang ada materi tentang kepemimpinan yang dibahas. Tentang bagaimana memimpin berdasarkan tipe kepribadian masing-masing. Bagi saya, inilah inti dari leadership yang sering terlupakan. Memimpin bukan sekadar soal memberi perintah atau mendelegasikan tugas. Memimpin adalah tentang memahami manusia yang kita pimpin—emosinya, potensinya, dan ruang tumbuh yang mereka butuhkan.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling keras suaranya atau paling tinggi jabatannya. Kepemimpinan adalah tentang memahami dan mengerti. Tentang memberi ruang agar setiap orang bisa bertumbuh dengan caranya sendiri, tanpa kehilangan jati dirinya.
Dan semua itu, bagi saya, selalu berawal dari satu hal sederhana: mengenal diri sendiri.
Produk Saya : (Premium) Ebook “Siapakah Aku?” : Cara Mudah untuk Mengenal Diri Sendiri
Terima kasih buat kamu sudah meluangkan waktu membaca sampai habis. Semoga ada hal yang bermanfaat, bisa kamu ambil. Sukses untuk semuanya, dan see you on the top…
Related Posts
- Review Buku Personality Plus karya Florence Littaure
- Mengenal 4 Tipe Karakter/Kepribadian Manusia: Kunci Mengenal Diri dan Memudahkan Hubungan dengan Orang Lain
- Jual Buku Personality Plus karya Florence Littaure
- Personality Plus : Belajar Mengenal 4 Tipe Kepribadian Manusia
- Kebutuhan Emosional Berbagai Tipe Kepribadian / Temperamen (Personality Plus)
- Keunggulan yang Berlebihan (Positif) pada 4 Tipe Kepribadian (Personality Plus), dapat Menimbulkan Kelemahan (Negatif)










