Sore itu, setelah menghadiri arisan keluarga Lebaran di Nganjuk, saya sengaja berhenti sejenak di Pahlawan Street Center. Niatnya sederhana—rehat sebentar sekaligus mengajak rombongan keluarga menikmati “wisata kecil” di tengah kota. Jujur saja, bagi saya pribadi, tempat ini sudah terasa biasa. Bahkan cenderung membosankan karena terlalu sering datang. Tapi hari itu
Selengkapnya...“Kapan menikah?” “Kapan punya anak?” “Kapan beli rumah?” “Kapan beli mobil?” “Kapan nambah anak lagi?” Pertanyaan-pertanyaan ini rasanya sudah sangat akrab di telinga kita. Seolah menjadi tradisi tidak tertulis setiap kali Lebaran tiba—hadir begitu saja tanpa pernah benar-benar disepakati. Menariknya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu punya makna yang sama. Semuanya tergantung
Selengkapnya...Ramadan tahun 2026 telah usai. Selama satu bulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, juga belajar menahan diri dari hal-hal yang biasanya terasa begitu dekat. Dan mulai esok hari, semuanya kembali seperti biasa—makan di siang hari, rutinitas berjalan lagi tanpa jeda yang sama. Namun ada satu hal yang selalu terasa
Selengkapnya...Malam itu, pukul satu dini hari, saya sengaja keluar rumah untuk mencari secangkir kopi di warung dekat rumah. Motor vespa saya dorong pelan dari pintu supaya tidak mengganggu bapak dan ibu yang sedang beristirahat. Saya memang tidur terlalu awal—pukul sembilan sudah terlelap, lalu terbangun pukul setengah satu. Karena tak bisa
Selengkapnya...Ternyata tidak mudah membiasakan diri tidur sendirian di alam terbuka. Rasa takut dan kekhawatiran pelan-pelan memenuhi kepala saat berada di dalam tenda. Setiap suara kecil terdengar lebih keras dari biasanya. Gesekan daun, hembusan angin, bahkan langkah hewan malam yang tak terlihat, semuanya terasa begitu dekat dan nyata. Inilah yang saya
Selengkapnya...

