Bukit Cumbri: Pendakian Pertama, dan Pelajaran untuk Pulang ke Diri Sendiri
Bisa dibilang, pendakian ini adalah pengalaman pertama saya benar-benar naik gunung. Bukit Cumbri menjadi pilihan awal bukan karena namanya yang populer, tapi karena ia terasa cukup ramah bagi seorang pemula yang bahkan sebelumnya tak pernah membayangkan diri berjalan di jalur pendakian. Di sanalah saya bukan hanya belajar melangkah menanjak, tetapi juga belajar diam, merenung, dan memahami banyak hal tentang kehidupan.

Di atas ketinggian, rasa kagum datang tanpa diundang. Alam seolah membuka dirinya perlahan, memperlihatkan betapa indah ciptaan Tuhan dengan cara yang sangat sederhana, namun menghunjam ke lerung hati yang paling dalam.
Pagi hari hadir dengan sunrise yang pelan-pelan menyinari cakrawala. Cahaya keemasan itu jatuh di antara kabut dan perbukitan, membuat saya terdiam cukup lama. Angin bertiup kencang, dingin, namun justru menghadirkan ketenangan yang sulit saya jelaskan.
Udara sejuk menembus kulit, terasa seperti pelukan sunyi yang jujur. Tidak ramai, tidak tergesa-gesa. Saya hanya duduk, menikmati momen itu dalam diam.

Saat itulah saya sadar, betapa kecilnya diri ini di hadapan luasnya semesta. Betapa seringnya kita sibuk mengejar hal-hal duniawi, sampai lupa bahwa ada keindahan yang bisa dinikmati tanpa harus memiliki apa pun. Padahal apa yang saya saksikan hari itu hanyalah sebagian kecil dari keindahan yang Tuhan ciptakan. Di belahan bumi lain, masih ada ribuan bahkan jutaan lanskap indah yang menunggu untuk disyukuri, bukan sekadar difoto.
Meskipun sering disebut tidak terlalu tinggi sekitar 638 mdpl, Bukit Cumbri meninggalkan kesan yang sangat berharga bagi pendaki pemula seperti saya ini. Saya bukan siapa-siapa di dunia pendakian. Tidak punya pengalaman panjang, tidak juga perlengkapan yang mewah.
Dulu, saya bahkan lebih pantas disebut anak rumahan. Keluar rumah terasa melelahkan. Capek, ribet, dan tidak praktis—itulah kata-kata yang sering berputar di kepala saya waktu itu. Apalagi harus naik gunung: jalurnya terjal, tanjakannya panjang, sunyi, dan jauh dari kenyamanan.
Namun entah kapan, cara berpikir itu berubah. Mungkin seiring bertambahnya usia. Mungkin karena hati mulai lelah dengan rutinitas yang itu-itu saja. Ada dorongan untuk melihat hidup dari sudut pandang yang lebih tinggi, secara harfiah maupun batin.

Rute Perjalanan Bukit Cumbri
Perjalanan saya menuju Bukit Cumbri dimulai dari perbatasan Ponorogo–Wonogiri. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul setengah empat dini hari, dengan satu harapan sederhana: bisa menikmati sunrise dari atas ketinggian. Perjalanan dini hari selalu punya suasana sendiri jalan yang masih lengang, udara dingin yang menusuk pelan, dan pikiran yang belum terlalu ramai oleh urusan dunia. Bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke Bukit Cumbri, rutenya cukup mudah. Tinggal mengikuti Google Maps menuju lokasi parkir yang berada di jalur perbatasan Ponorogo–Wonogiri. Dari titik itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju jalur pendakian. Menariknya, untuk menikmati pemandangan di Bukit Cumbri, biayanya terbilang sangat ramah di kantong. Cukup membayar sekitar Rp5.000 sebagai ongkos parkir. Setelah itu, pendakian bisa langsung dimulai. Untuk mencapai puncak, waktu tempuhnya kurang lebih 30 menit. Jalurnya cukup beragam ada yang landai, ada pula tanjakan yang cukup menguras tenaga. Namun jika dijalani dengan langkah pelan dan tanpa tergesa-gesa, pendakian ini terasa ringan dan menyenangkan. Saya sendiri mulai mendaki sekitar pukul 05.20 dan tiba di puncak kurang lebih pukul 05.35. Bisa dibilang cukup cepat, meski sebenarnya bukan soal cepat atau lambat. Yang lebih penting adalah menikmati setiap langkah, setiap tarikan napas, dan setiap momen kecil yang sering luput jika kita terlalu terburu-buru. Perlengkapan sederhana seperti air minum dan camilan ringan sebaiknya tetap dibawa. Dengan begitu, saat tiba di atas, kita tidak hanya duduk diam menikmati pemandangan, tapi juga bisa menyeduh secangkir kopi atau sekadar mengisi tenaga. Duduk dalam diam, ditemani kopi hangat dan udara pegunungan, menjadi cara sederhana untuk mensyukuri keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Bagi saya, Bukit Cumbri memang terasa sangat ramah bagi pendaki pemula. Spot-spot yang disuguhkan tak kalah indah dibanding gunung-gunung lain. Namun demikian, keramahannya bukan alasan untuk meremehkan alam. Persiapan tetaplah penting. Alam punya caranya sendiri untuk mengingatkan manusia agar tetap rendah hati. Hal ini saya saksikan sendiri saat perjalanan turun. Hujan lebat mengguyur jalur pendakian, membuat tanah menjadi sangat licin. Di tengah perjalanan, saya bertemu dua perempuan yang terlihat kesulitan saat turun. Rupanya, mereka mendaki tanpa menggunakan sepatu—hanya sandal jepit keseharian. Saat naik, mungkin tidak terlalu terasa masalahnya. Namun saat turun, kondisi jalur yang licin membuat mereka beberapa kali terpeleset dan hampir jatuh. Melihat kondisi itu, saya dan teman mencoba membantu sebisa mungkin agar mereka bisa turun dengan lebih aman. Kejadian sederhana ini justru memberi pelajaran yang cukup dalam. Bahwa hal-hal kecil yang sering dianggap sepele, justru bisa menjadi penentu keselamatan. Inilah catatan penting bagi pendaki pemula: meskipun Bukit Cumbri tergolong ramah, mengenakan sepatu yang layak adalah hal yang wajib diperhatikan. Jalur terjal dan licin tetap akan ditemui, terutama saat cuaca berubah. Mendaki gunung bukan soal menantang alam, tetapi belajar berdamai dan menghormatinya. Kesombongan sekecil apa pun bisa berujung pada hal yang tidak diinginkan. Pada akhirnya, perjalanan ke Bukit Cumbri saya kali ini bukan sekadar tentang mencapai puncak, tetapi tentang belajar berjalan pelan dan menyadari diri. Dari ketinggian, saya belajar bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas, dan justru di situlah rasa syukur menemukan tempatnya. Catatan ini menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan, sesederhana apa pun, selalu membawa pulang pelajaran tentang kerendahan hati, kesadaran, dan keberanian untuk melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Baca juga : Waduk Bendo : Kecantikan Alam yang Masih Asri, Mancing, dan Kebersamaan Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca hingga akhir. Nantikan cerita #JournalKelana saya berikutnya bukan sekadar tentang perjalanan, tapi tentang makna yang tumbuh di setiap langkah.Related Posts
- #JournalKelana : Tempat Pulang bagi Setiap Langkah dan Cerita
- Menikmati Senja di Telaga Ngebel: Tenang, Sederhana, dan Selalu Mengundang Rindu
- Bali, 3 Destinasi Romantis yang Bisa Kamu Kunjungi
- Rasa Takut Itu Menjadi Penunjuk Jalan, Bukan Penghalang
- Kapan Terakhir Kamu Merasa Takjub yang Membuatmu Kembali Tersenyum?
- Malam yang Sunyi, Bersama Kenikmatannya







