web counters
Gunung Prau
Travel

Gunung Prau: Awal Perjalanan Saya Belajar Mendaki

Journal Kelana #5 : Langkah pertama saya menuju puncak Gunung Prau

Seorang teman pernah berkata, “Pendakian pertama adalah titik penentu: apakah seseorang akan jatuh cinta pada gunung, atau justru memilih berhenti.”

Segalanya ditentukan oleh siapa yang menemani perjalanan itu, dan pengalaman apa yang dirasakan di sepanjang jalur.

Dan di sanalah semuanya bermula bagi saya—seorang pemula yang belajar memahami arti pendakian, lewat langkah pertama di Gunung Prau.

Minggu, 26 April 2026 menjadi babak baru dalam kehidupan saya. Impian untuk mendaki gunung yang saya simpan selama tiga tahun akhirnya hampir menjadi kenyataan.

Menariknya, pendakian pertama ini justru lahir dari rencana yang sama sekali tidak terduga—berawal dari obrolan santai bersama Gus Farid.

Awalnya kami hanya berdiskusi ringan, mengevaluasi program sosial yang sedang kami jalankan. Namun entah bagaimana, di tengah percakapan itu, Gus Farid tiba-tiba mengajak saya mendaki Gunung Prau.

Ajakan itu langsung saya iyakan. Dalam hati saya berkata, “Kapan lagi punya kesempatan mendaki bersama seseorang yang sudah berpengalaman di dunia pendakian?” Apalagi Gus Farid bukan sosok biasa—ia pernah menjejakkan kaki di Carstensz Pyramid, salah satu puncak tertinggi di Indonesia yang terkenal dengan medan ekstremnya.

Kami pun memutuskan berangkat pukul 23.30 malam menggunakan sepeda motor. Setelah menyelesaikan berbagai tanggung jawab di pagi hingga siang hari, malam menjadi satu-satunya waktu yang memungkinkan kita untuk berangkat.

Perjalanan yang menurut Google Maps memakan waktu sekitar 7 jam, ternyata membawa cerita lain. Kenyataannya, kami menempuh hampir 11 jam perjalanan hingga akhirnya tiba di kawasan Dieng sekitar pukul 11 siang. Kenapa Gus Farid memilih Gunung Prau? Kenapa bukan Gunung Lawu yang jelas lebih dekat dari rumah saya?

Jawabannya sederhana: mungkin karena beliau paham saya masih pemula. Trek berbatu dan menanjak di Gunung Lawu terbilang cukup menantang dan belum tentu ramah untuk pendaki pertama. Sementara Gunung Prau dikenal memiliki jalur yang relatif lebih bersahabat. Aksesnya pun lebih mudah—bahkan sebagian jalur bisa ditempuh dengan ojek hingga pos 2, tanpa harus berjalan dari bawah. Setelah itu, perjalanan menuju puncak hanya memakan waktu sekitar tiga jam.

Sunrise Gunung Prau
Sunrise Gunung Prau

Selain itu, Gunung Prau juga terkenal dengan julukan sebagai salah satu spot sunrise terbaik di Asia Tenggara. Mungkin inilah alasan terkuat Gus Farid memilihnya—agar pengalaman pertama saya mendaki bukan dipenuhi rasa takut atau trauma, melainkan kesan indah yang sulit dilupakan.

Setibanya di lokasi Patak Banteng, kami langsung melakukan registrasi untuk mendaftar SIMAKSI. Persyaratannya pun cukup mudah, hanya berupa KTP dan tiket pendakian sebesar Rp 35.000 per orang. Namun, setelah mendaftar kami tidak langsung melakukan pendakian, melainkan menyempatkan diri untuk mengeksplorasi kawasan wisata Dieng terlebih dahulu. Karena kapan lagi kalau tidak sekarang.

Menurut saya, menakjubkan memang, julukan Dieng sebagai “Negeri Para Dewa” benar-benar terasa nyata. Pasalnya, sejauh mata memandang, pemandangan di kawasan pegunungan Dieng hanya menghadirkan rasa takjub dan kekaguman akan keindahan alamnya. Kami pun menyempatkan diri untuk masuk ke Museum Kailasa, Candi Arjuna, dan Kawah Sikidang. Untuk ulasan lengkap perjalanan eksplorasi ini, akan saya bahas secara terpisah di konten saya yang lain.

Singkat cerita, kami memutuskan untuk memulai pendakian pada pukul 20.00 WIB dengan menaiki ojek hingga Pos 2. Sedikit informasi menarik, ternyata layanan ojek hingga Pos 2 ini baru saja diresmikan pada tahun 2026. Sebelumnya, layanan ojek hanya tersedia sampai Pos 1, dan para pendaki harus melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Prau secara mandiri dari titik tersebut.

Sedikit informasi tambahan—sekadar membuka wawasan—bahwa Gunung Prau (±2.565–2.590 mdpl) merupakan salah satu gunung favorit di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Gunung ini terkenal dengan pemandangan sunrise yang luar biasa indah, hamparan Bukit Teletubbies, serta panorama megah Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang berdiri gagah di kejauhan.

Gunung Prau juga populer sebagai destinasi pendakian ramah pemula, dengan estimasi waktu naik sekitar 2–3 jam. Tak heran jika gunung ini mendapat julukan “Gunung Sejuta Umat” karena begitu diminati, baik untuk pendakian santai maupun camping.

Untuk jalur pendakian, tersedia beberapa pilihan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan:

  • Via Patakbanteng (Wonosobo): Jalur paling populer dan tercepat, namun cukup terjal.
  • Via Dieng (Wonosobo): Cocok untuk pemula, dengan jalur yang relatif landai dan berundak.
  • Via Kalilembu: Jalurnya santai, pas untuk pemula yang ingin menikmati perjalanan tanpa terburu-buru.
  • Via Wates (Temanggung): Alternatif jalur yang lebih sepi, cocok bagi yang mencari suasana lebih tenang.

Kami mulai tracking sekitar pukul 20.30 WIB. Meski malam sudah larut, jalur pendakian masih cukup ramai. Memang benar kata orang-orang, Gunung Prau seakan tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan saat kami mendaki, masih banyak pendaki lain yang berjalan di jalur yang sama.

Night light Gunung Prau

Dari pos 2, perjalanan dilanjutkan langsung menuju puncak. Salah satu hal paling menyenangkan selama pendakian malam itu adalah pemandangan night light yang begitu indah. Dari atas jalur, kami bisa melihat kelap-kelip lampu rumah warga di kawasan Dieng dan cahaya penginapan yang terlihat kecil di kejauhan. Suasananya tenang, dingin, sekaligus menenangkan.

Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, akhirnya kami tiba di puncak dan segera mendirikan tenda untuk beristirahat. Besok paginya, kami sudah punya satu tujuan yang paling ditunggu: menyaksikan sunrise dari atas Gunung Prau.

Dan ternyata, semua cerita tentang Gunung Prau memang bukan sekadar berlebihan. Julukan sebagai salah satu spot sunrise terbaik di Asia Tenggara terasa begitu nyata saat saya melihatnya sendiri. Cahaya matahari perlahan muncul di antara siluet Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, menciptakan pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Lautan awan yang mengelilingi Gunung Sumbing seolah menjadi dekorasi alam yang sempurna. Semuanya terasa begitu megah, tenang, dan menakjubkan dalam waktu yang bersamaan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melihat matahari terbit dari ketinggian lebih dari 2.500 mdpl.

Dan jujur saja… rasanya benar-benar wow.

Di atas puncak, kami tidak melakukan banyak hal. Hanya duduk santai, menikmati secangkir kopi hangat sambil merasakan dinginnya pagi di atas gunung. Namun justru di momen sederhana itu, ada hal yang paling berkesan bagi saya.

Ada hal yang saya dapatkan saat mendaki gunung pertama saya ini. ‌Teman saya berkata, “Mendaki gunung itu soal mental, bukan sekadar fisik.” Awalnya terdengar klise. Tapi melihat dia berkali-kali mengantarkan tamu—dari yang muda sampai yang sudah berumur, dari lokal hingga mancanegara—ucapan itu jadi sulit untuk saya abaikan.

Dulu saya percaya, mendaki gunung butuh badan yang kekar dan tenaga yang kuat. Seolah hanya mereka yang “siap secara fisik” yang pantas sampai puncak. Namun, setelah pengalaman pertama saya di Gunung Prau, pemahaman itu perlahan runtuh.

Di tengah perjalanan, yang benar-benar diuji bukan otot, tapi isi kepala. Bertarung dengan rasa lelah, menghadapi pilihan antara menyerah atau melanjutkan. Belajar diam saat keluhan ingin keluar, dan tetap melangkah meski banyak hal tak terduga datang silih berganti.

Di situlah saya mulai mengerti—bahwa mendaki gunung memang lebih banyak soal mental. Fisik memang membantu, tetapi mentallah yang menentukan apakah seseorang akan terus melangkah hingga puncak, atau memilih berhenti di tengah jalur.

Jujur saja, dulu saya sangat takut mendaki gunung karena khawatir dengan hipotermia dan cuaca dingin. Maklum, saya memiliki alergi terhadap udara dingin. Namun setelah mulai belajar, saya menyadari bahwa banyak hal sebenarnya bisa diantisipasi dengan aklimatisasi yang baik, perlengkapan yang tepat, serta persiapan yang matang.

Dan yang paling penting, mendaki bersama orang yang sudah berpengalaman atau profesional. Kehadiran mereka sangat membantu meminimalkan risiko dan kemungkinan terburuk selama pendakian. Selain itu, banyak edukasi dasar tentang gunung dan alam yang sering kali tidak kita dapatkan di internet, justru bisa dipelajari langsung dari guide atau pendaki senior yang benar-benar memahami medan dan kondisi alam.

Di puncak, kami sempat berbincang dengan beberapa pendaki lain. Meski sebelumnya tidak saling mengenal, suasana hangat membuat percakapan terasa begitu akrab. Seolah gunung memang punya caranya sendiri untuk mendekatkan orang-orang yang awalnya asing.

Secangkir kopi pun menjadi penyambung cerita, membuat obrolan sederhana di tengah udara dingin terasa jauh lebih hangat.

Setelah merasa cukup menikmati suasana di puncak Gunung Prau, sekitar pukul 11.30 kami memutuskan untuk berkemas dan turun kembali pulang. Jujur saja, saya pribadi masih ingin berlama-lama di sana—menikmati udara dingin, pemandangan luas, dan suasana tenang yang sulit ditemukan di kehidupan sehari-hari.

Namun, aktivitas dan tanggung jawab yang sudah menunggu keesokan harinya tidak bisa diabaikan. Saya percaya, menjaga keseimbangan antara travelling dan tetap produktif dalam pekerjaan adalah hal yang penting. Meski begitu, saya juga paham kenapa banyak orang selalu ingin kembali ke alam. Ada rasa tenang yang membuat kita seolah tidak pernah benar-benar puas. Rasanya selalu ingin tinggal lebih lama, datang lagi, dan mengulang pengalaman yang sama.

Tapi pada akhirnya, semua hal akan terasa nikmat jika sesuai porsinya—tidak berlebihan, dan tidak juga merasa kurang.

Dalam perjalanan turun, saya justru dibuat terkejut. Jalur yang semalam kami lewati dalam gelap ternyata cukup terjal dan tinggi. Akar-akar pohon yang membentang di sepanjang jalur bukan hanya terlihat indah seperti lukisan alam, tetapi juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki. Seolah jalur itu selalu memberi dua pilihan: terus melangkah naik, atau menyerah dan kembali turun.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya dipenuhi rasa syukur karena diberi kesempatan untuk menapakkan kaki di puncak Gunung Prau. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan ini. Karena bagi saya, gunung bukan sekadar tempat untuk bermain atau mencari hiburan, melainkan tempat untuk belajar.

Belajar menguatkan mental, belajar beradaptasi dengan ketidakpastian, dan belajar mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu luas dan indah.

Meski Gunung Prau bukan gunung yang terlalu tinggi, bagi saya pendakian pertama ini menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Ada rasa haru, takut, kagum, lelah, dan bahagia yang bercampur menjadi satu perjalanan yang sulit dilupakan.

Seperti pepatah yang saya tulis sebelumnya, pendakian pertama memang menjadi penentu. Dan dari perjalanan inilah, saya mulai jatuh cinta pada dunia pendakian—serta ingin menapaki lebih banyak gunung lain yang tersebar di Indonesia.

Terima kasih buat kamu yang sudah membaca cerita saya sampai habis, semoga ada hal baik yang bisa kamu ambil. Sukses untuk Anda semua, sampai jumpa di cerita saya selanjutnya. See you…

0Shares