web counters
Ceritaku di Tahun 2025
Stories

Ceritaku di Tahun 2025 : Berdamai, Belajar, dan Perlahan Tertata

Catatan Perjalanan dari Kegaduhan Sosial, Kursi Belajar di Pare, hingga Kesunyian yang Membebaskan

Bencana di Sumatera, demo besar di bulan Agustus, hingga munculnya tagar kabur aja dulu“, semuanya menjadi rangkaian peristiwa yang tertanam kuat di kepala saya sepanjang tahun 2025. Tahun ini terasa berat, bukan hanya karena apa yang saya alami secara pribadi, tapi karena Indonesia sendiri seolah sedang tidak baik-baik saja.

Di tengah kondisi itu, saya menyadari satu hal: saya tidak selalu punya kuasa untuk mengubah keadaan besar. Namun saya selalu punya pilihan untuk menentukan sikap. Saya memilih berdamai dengan keadaan, bukan berarti pasrah, tapi mencoba berkontribusi lewat cara yang saya bisa. Bukan sekadar ikut berisik di kolom komentar, melainkan melakukan praktik-praktik kecil yang nyata, meski dampaknya mungkin tidak langsung terlihat. Saya percaya, perubahan besar selalu berawal dari kesadaran dan tindakan kecil yang konsisten.

Maaf jika pembuka kali ini terasa sedikit politis. Ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya saat saya menulis catatan akhir tahun. Tapi rasanya jujur saja, sulit membicarakan perjalanan hidup tanpa menyinggung konteks sosial dan negara tempat kita berpijak.

Oke saya lanjut untuk bercerita, soal tahun 2025  ini ya. Ngobrolin soal politik sampai disini aja.

Setiap tahun, sebenarnya kita semua menjalani perjalanan yang unik. Ada jatuh bangun, ragu, lelah, dan pelajaran yang tidak selalu terasa penting di saat itu. Sayangnya, kita sering kali terlalu sibuk mengejar hari esok, sampai lupa merenungi apa yang sudah kita lewati. Padahal, jika kita mau berhenti sejenak dan mendokumentasikan perjalanan tersebut—meski hanya lewat tulisan sederhana—kelak ia bisa menjadi pengingat, bahkan pegangan, di masa depan.

Karena itulah, saya memilih menulis.

Bagi saya, tulisan memiliki daya simpan yang lebih panjang dibanding foto atau video. Tulisan bukan hanya menyimpan momen, tapi juga perasaan, cara berpikir, dan sudut pandang kita pada satu fase kehidupan. Saat dibaca ulang di waktu yang berbeda, tulisan sering kali memberi makna baru yang tak kita sadari sebelumnya.

Baca juga : Ceritaku Di Tahun 2024 : Achievement, Transformasi, & Kebijaksanaan

Salah satu pengalaman paling berkesan di tahun 2025 adalah ketika saya memutuskan untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Pare. Sebuah keputusan sederhana, tapi penuh makna.

Saya kembali duduk sebagai murid, mempelajari hal yang dulu sering saya abaikan. Bahasa Inggris pernah menjadi pelajaran yang terasa membingungkan dan membosankan. Bahkan, tidak jarang saya memilih tidur di kelas saat guru menjelaskan.

Namun kali ini berbeda. Belajar berdasarkan kebutuhan membuat prosesnya jauh lebih hidup. Ada tujuan yang jelas, ada kesadaran kenapa saya harus belajar. Tidak lagi karena tuntutan orang tua atau kewajiban sekolah, melainkan karena saya memahami manfaatnya. Di usia dewasa ini, saya benar-benar merasakan bahwa kemampuan berbahasa, terutama bahasa Inggris—bukan lagi sekadar nilai di rapor, tapi bekal hidup. Di era teknologi dan keterbukaan informasi seperti sekarang, skill berbahasa menjadi jembatan untuk belajar lebih luas, bekerja lintas batas, dan membuka peluang yang sebelumnya terasa jauh.

Tahun ini juga mengajarkan saya tentang kemandirian.

Bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia menjadi pengalaman yang sangat berharga. Jujur saja, sejak kuliah hingga usia 28 tahun, saya belum pernah benar-benar merantau. Hidup terpisah dari orang tua, mengatur semuanya sendiri di kota lain, adalah pengalaman yang belum pernah saya rasakan. Bukan karena takut atau tidak mau, tapi karena jalan hidup saya membawa saya membangun usaha dari rumah. Merantau tidak pernah menjadi prioritas, meski dalam hati selalu ada rasa penasaran.

Tinggal sejenak di Kampung Inggris perlahan mengubah cara pandang saya terhadap hidup. Saya melihat begitu banyak orang dengan mimpi besar, datang dari latar belakang yang berbeda, membawa tujuan masing-masing. Ada yang ingin melanjutkan studi S2 atau ke luar negeri, ada yang ingin bekerja di luar negeri, ada pula yang bercita-cita menjadi guru atau tutor bahasa.

Dari mereka, saya belajar satu hal penting: mimpi saja tidak cukup. Semua impian itu menuntut konsistensi, kesungguhan, dan kesabaran. Terlebih dalam belajar bahasa, tidak ada jalan pintas. Yang ada hanyalah proses membangun kebiasaan—datang ke kelas, berlatih, salah, diperbaiki, lalu mengulanginya lagi dan lagi.

Dan di situlah, saya benar-benar belajar. Bukan hanya tentang bahasa Inggris, tapi tentang hidup. Bahwa bertumbuh sering kali berarti kembali menjadi pemula. Bahwa dewasa bukan soal tahu segalanya, melainkan berani mengakui bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Tahun 2025 mengajarkan saya untuk pelan-pelan, jujur pada diri sendiri, dan terus melangkah—meski dengan langkah kecil.

Cerita saya soal belajar bahasa inggris :

Itulah point besarnya, namun ada beberapa cerita yang hadir di kehidupan saya pada tahun 2025 ini. Selengkapnya saya bagi beberapa point di bawah ini ya :

Perusahaan Mengalami Krisis Keuangan

Tahun 2025 menjadi fase yang cukup berat bagi perusahaan yang saya bangun. Usaha ini sempat mengalami krisis keuangan, di mana kondisi kas perusahaan tiba-tiba menipis akibat salah kelola. Tidak hanya itu, fokus saya yang terpecah karena mengikuti kelas privat bahasa Inggris juga menjadi salah satu faktor yang berdampak langsung pada penurunan penjualan. Aktivitas sales menurun cukup drastis.

Di masa tersebut, saya sempat mengalami kebingungan—terutama saat harus memikirkan bagaimana menutup biaya operasional dan menggaji tim setiap bulannya. Tekanan itu nyata dan tidak mudah dihadapi. Namun, Alhamdulillah, dengan melakukan beberapa langkah efisiensi serta kembali memusatkan perhatian pada peningkatan strategi marketing, fase sulit itu perlahan bisa saya lewati.

Krisis keuangan ternyata bukan hanya soal angka, melainkan juga soal mental. Di titik ini, saya belajar bahwa menjadi pengusaha bukan tentang terlihat sukses di luar, tetapi tentang kemampuan bertahan ketika kondisi tidak ideal.

Saya dipaksa untuk lebih jujur melihat kondisi usaha, merapikan sistem yang berantakan, menunda ego, dan menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya—melainkan sinyal kuat untuk segera berbenah dan bertumbuh.

Menata & Mengelola Keuangan Pribadi

Pengalaman di tahun 2025 bukan hanya soal krisis keuangan perusahaan, tetapi juga menyentuh ranah keuangan pribadi. Kondisi tersebut memaksa saya untuk bercermin dan jujur pada diri sendiri: ada banyak hal yang perlu ditata ulang, terutama dalam cara saya mengelola keuangan.

Selama ini saya sering merasa “cukup”, tetapi belum tentu “teratur”. Uang datang dan pergi, kebutuhan terpenuhi, namun tanpa perencanaan yang benar-benar jelas. Tahun ini saya mulai belajar memisahkan antara tabungan dan investasi, mencatat setiap pengeluaran, memahami mana yang menjadi prioritas, serta belajar menunda keinginan yang sebenarnya tidak mendesak. Proses ini terasa sederhana, tapi dampaknya sangat besar terhadap ketenangan pikiran.

Dari sini saya menyadari bahwa mengelola keuangan bukan tentang seberapa besar penghasilan yang kita dapatkan, melainkan seberapa bijak kita memperlakukannya. Penghasilan besar tanpa pengelolaan yang baik hanya akan melahirkan kecemasan baru. Sebaliknya, keuangan yang tertata—meski jumlahnya sederhana—memberikan rasa aman dan ruang bernapas dalam menjalani hidup.

Menata keuangan pribadi juga mengajarkan saya tentang disiplin dan kesadaran diri. Bahwa setiap keputusan finansial selalu memiliki konsekuensi, dan setiap rupiah yang dikelola dengan baik adalah bentuk tanggung jawab pada masa depan. Dari proses ini, saya belajar bahwa ketenangan hidup sering kali lahir bukan dari banyaknya uang yang kita miliki, melainkan dari kejelasan arah dan kontrol atas keuangan itu sendiri.

Cerita saya soal keuangan :

Belajar untuk Rutin ke Tempat Gym

Di tengah tekanan pekerjaan dan pikiran yang sering terasa penuh, saya mulai menyadari satu hal penting: tubuh bukanlah mesin.

Kesadaran ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2024, bahwa di tahun 2025 saya harus mulai benar-benar memperhatikan kesehatan dengan berolahraga di gym. Dan Alhamdulillah, niat itu akhirnya tercapai.

Dulu saya sempat berpikir bahwa ikut member gym adalah hal yang mahal. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Di sekitar tempat tinggal saya, biaya gym hanya sekitar Rp50.000 per bulan—sangat ekonomis dan lebih dari cukup untuk kebutuhan latihan saya. Memang ada pilihan gym dengan biaya Rp150.000 hingga Rp500.000 per bulan, tapi bagi saya, yang terpenting bukan fasilitasnya, melainkan konsistensi untuk datang dan berlatih.

Belajar gym dan menjaga kesehatan menjadi bentuk tanggung jawab baru terhadap diri sendiri. Bukan tentang membentuk badan atau mengejar tampilan fisik, tetapi tentang melatih disiplin, menjaga konsistensi, dan menghargai tubuh yang selama ini sering saya paksa untuk terus bekerja tanpa jeda.

Dengan rutin gym sekitar 3–4 kali dalam seminggu, saya mulai merasakan perubahan yang nyata. Tubuh terasa lebih segar, lebih bugar, dan jarang sakit-sakitan. Dulu hampir setiap bulan saya merasakan badan kurang enak atau flu, sekarang kondisi seperti itu jauh berkurang. Daya tahan tubuh meningkat, dan secara keseluruhan saya merasa lebih fresh dalam menjalani aktivitas harian.

Dari gym, saya belajar bahwa perubahan tidak pernah datang secara instan. Sedikit demi sedikit, tubuh mengajarkan bahwa hasil selalu sebanding dengan proses dan konsistensi yang kita jalani. Dan pelajaran itu bukan hanya berlaku di gym, tapi juga dalam kehidupan.

Cerita saya soal Gym :

Melihat Keindahan Alam & Makna di Balik Itu Semua

Beberapa momen di tahun ini saya habiskan dengan menyapa alam, entah itu gunung, danau, atau perjalanan sunyi yang bahkan tidak selalu direncanakan.

Di tengah hiruk pikuk rutinitas dan tuntutan hidup, alam menjadi ruang jeda yang paling jujur. Keindahannya mengajarkan saya untuk diam sejenak, berhenti mengendalikan segalanya, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.

Di hadapan alam, saya belajar tentang kerendahan hati. Bahwa hidup tidak melulu soal target, pencapaian, dan daftar ambisi yang tak ada habisnya. Ada proses yang perlu dinikmati, ada kelelahan yang layak dihargai, dan ada napas yang pantas disyukuri. Alam mengingatkan saya bahwa kita bukan pusat dari segalanya—kita hanyalah bagian kecil dari semesta yang begitu luas dan megah.

Dari pengalaman-pengalaman itu, cara pandang saya terhadap dunia perlahan berubah. Saya mulai melihat hidup dengan perspektif yang lebih luas dan lebih tenang.

Keindahan dunia yang luar biasa ini terasa terlalu berharga jika hanya dilewati begitu saja tanpa kesadaran. Setiap langkah, setiap pemandangan, dan setiap keheningan menyimpan makna asal kita mau berhenti sejenak untuk benar-benar melihat dan merasakannya.

Menjadi Pelayan TDA Madiun, Bertumbuh Bersama Circle Pengusaha

Kesempatan menjadi bagian dari TDA Madiun sebagai pelayan komunitas menjadi salah satu pengalaman paling berharga di tahun ini. Berada di lingkungan para pengusaha membuka cara pandang saya tentang banyak hal—bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang kepemimpinan, proses bertumbuh, dan arti kebersamaan.

Di dalam circle ini, saya menyadari bahwa perjalanan membangun usaha tidak harus dilalui sendirian. Ada ruang untuk berdiskusi, berbagi cerita, saling belajar dari kegagalan maupun keberhasilan, serta saling menguatkan di saat kondisi tidak ideal. Interaksi seperti inilah yang perlahan menumbuhkan perspektif baru dan memberikan energi yang berbeda dalam menjalani peran sebagai pengusaha.

Menjadi pelayan justru memberi pelajaran yang paling mendalam. Saya belajar tentang kerendahan hati—bahwa melayani bukan berarti berada di posisi bawah, melainkan memilih untuk memberi manfaat tanpa harus menonjolkan diri. Dari sini saya memahami bahwa pertumbuhan yang paling sehat sering kali lahir dari sikap mau membantu, mau belajar, dan mau berjalan bersama. Karena pada akhirnya, bertumbuh bersama jauh lebih bermakna daripada melaju sendirian.

Cerita saya soal bisnsi di TDA :

2025: Bukan Tentang Pencapaian, Tapi Tentang Perlahan Tertata

Sebenarnya, ada begitu banyak kisah dan pengalaman yang saya dapatkan sepanjang tahun 2025 ini. Namun, sebagian cerita memang sengaja saya simpan untuk diri sendiri—cukup menjadi konsumsi pribadi saja. Hehe. Dari beberapa poin yang sudah saya ceritakan di atas, itulah pelajaran-pelajaran paling berharga yang saya rasakan tahun ini. Bukan tentang pencapaian besar atau hal-hal yang terlihat hebat dari luar, melainkan tentang perbaikan-perbaikan kecil yang perlahan membuat hidup terasa lebih tertata dan bermakna.

Tidak hanya itu, kegagalan, kesalahan, dan momen-momen tersandung yang saya alami justru menjadi titik pembelajaran terbesar di tahun ini. Dari sana saya belajar untuk lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih berhati-hati dalam melangkah ke depan. Tahun 2025 mengajarkan saya bahwa jatuh bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan, melainkan bagian penting dari proses bertumbuh.

Terima kasih untuk kamu yang sudah meluangkan waktu membaca cerita saya sampai habis. Tulisan kali ini memang cukup panjang—kurang lebih sampai 1.600 kata. Hehehe. Semoga dari cerita sederhana ini, ada satu atau dua hal kecil yang bisa kamu ambil. Kalau tidak pun tidak apa-apa. Toh, pada akhirnya ini hanyalah catatan perjalanan hidup saya.

Terakhir, semoga apa pun yang sedang kamu perjuangkan saat ini perlahan menemukan jalannya. Semoga di tahun depan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini, dan impian-impian yang belum terwujud di tahun 2025 bisa tercapai di tahun 2026.

Oke, sukses untuk kita semua. See you on the top, dengan versi diri yang lebih matang dan sadar.

Gallery 2025

Inilah hasil recap dokumentasi pribadi saya selama tahun 2025 ini. Sayang kalau cuman di simpan di memori hp aja. 

0Shares