Yang Membuat Hidup Nikmat, Bukan Apa yang Ada di Piringmu
“Satu-satunya cara untuk hidup adalah dengan menerima setiap menit sebagai keajaiban yang tidak dapat diulang.” – Tara Brach
Pagi itu, saat saya sedang jogging, ada sebuah pemandangan unik dan cukup spesial yang membuat saya berhenti sejenak. Rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan dari situlah inspirasi tulisan ini muncul.
Saya melihat sekelompok bapak-bapak di sawah sedang sarapan. Mereka makan dengan lahap, sambil bercanda tawa bersama teman-temannya. Sederhana, tapi begitu hangat dan penuh makna. Di tengah pemandangan hijau pesawahan, saya seperti disuguhkan pelajaran hidup yang jarang saya dapatkan: tentang syukur, tentang cara menikmati hidup.
Kira-kira fotonya seperti ini ya. Maaf agak blur, karena saya mengambilnya dari jarak jauh. Takut mengganggu mereka yang sedang menikmati momen berharga itu.
Nah, sekarang mari kita bahas lebih dalam. Santai saja, saya akan mencoba mengemas cerita ini dengan ringan, supaya kamu mudah memahaminya.
Bukan Tentang Apa yang Dimakan, Tapi Bagaimana Kita Menikmatinya
Kenapa saya merasa momen itu begitu berkesan?
Karena saya melihat sudut pandang baru. Bahwa untuk menikmati makanan, tak harus menunya mewah, dengan lauk daging, disajikan di hotel bintang lima oleh pelayan berseragam rapi. Tapi justru yang paling penting adalah bagaimana cara kita menikmatinya.
Bapak-bapak di sawah itu, meski hanya makan seadanya, di tempat yang mungkin panas, kotor, dan berdebu — mereka tetap terlihat menikmati. Mereka tertawa, mereka bahagia. Itu yang membuat saya terdiam.
Lalu saya teringat pengalaman pribadi beberapa waktu lalu…
Ketika Makan di Hotel Berbintang Justru Tak Terasa Nikmat
Waktu itu saya sedang ada kegiatan di Malaysia dan menginap di hotel berbintang. Semua terlihat mewah, makanan melimpah, daging di mana-mana. Tapi sayangnya, saat itu hati saya sedang tidak enak. Ada masalah kecil dengan panitia yang bikin suasana hati kacau.
Hasilnya? Makan malam yang harusnya terasa nikmat, malah hambar. Bukan karena masakannya kurang enak, tapi karena pikiran dan perasaan saya sedang tidak bisa menikmati. Gara-gara kesal dan kecewa, semua terasa salah. Padahal secara logika, kondisi saya saat itu “idealnya” untuk bahagia dan senang-senang. Tapi, malah sebaliknya.
Di sinilah saya sadar, ternyata rasa nikmat dan bahagia itu bukan ditentukan dari seberapa mewahnya makanan atau tempat, tapi dari kondisi hati dan cara kita memaknainya.
Baca juga : Gara-Gara Ekspektasi, Berujung pada Kekecewaan, Kecemasan & Kegelisahan
Cara Kita Menikmati, Bukan Apa yang Dinikmati
Melihat bapak-bapak di sawah yang bisa tertawa lepas sambil menikmati sarapan sederhana mereka, membuat saya berhenti sejenak dan merenung. Di tengah pemandangan sawah yang hijau dan tenang, saya seperti ditampar halus oleh kenyataan : hidup ini, sejatinya bukan tentang apa yang kita miliki, tapi tentang bagaimana kita menikmati apa yang ada di hadapan kita.
Kebahagiaan itu ternyata tidak selalu hadir dari luar, dari harta, status, kemewahan, atau pujian orang lain. Kebahagiaan tumbuh dari dalam diri : dari pikiran yang tidak terus-menerus menuntut, dari hati yang mampu bersyukur meski dalam keterbatasan, dan dari jiwa yang bersedia menerima keadaan dengan lapang dan tulus.
Kita seringkali terjebak dalam ilusi bahwa bahagia itu harus besar, harus megah, dan harus serba wah. Padahal, jika kita jujur pada diri sendiri, rasa tenang dan nikmat itu justru muncul saat kita mampu melihat hal-hal kecil dengan rasa cukup. Segelas kopi hangat, obrolan ringan dengan teman, atau bahkan semangkuk nasi dengan sambal sederhana bisa jadi lebih berharga, jika dinikmati dengan hati yang penuh syukur.
Sayangnya, banyak dari kita, termasuk saya sendiri, pernah menunda rasa syukur. Kita berkata dalam hati, “Nanti kalau sudah punya ini… baru bisa bahagia.” Atau, “Seandainya hidupku seperti dia… pasti aku lebih tenang.” Tanpa sadar, kita terus menunggu keadaan yang ideal, sambil melewatkan banyak momen indah yang sebenarnya sudah ada pada hari ini, kini dan sekarang.
Sederhana itu bukan berarti seadanya. Konsep sederhana sering kali disalah pahami. Sederhana bukan soal kurang, tapi soal cukup.
Sederhana adalah ketika kita bisa merubah cara pandang: dari mengeluh menjadi menghargai, dari membandingkan menjadi menerima, dari menuntut menjadi merayakan.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan isi piring kita, bukan lokasi tempat kita duduk makan, bukan jumlah uang di rekening kita, tapi cara kita menikmati semuanya. Karena bisa jadi, yang kamu sebut “biasa saja”, ternyata adalah impian bagi orang lain.
Baca juga : Kebahagiaan Terletak di Saat yang Sekarang, Bukan Di Masa Depan
Kesimpulan
Pada akhirnya, saya ingin mengajak kamu juga untuk mulai lebih sadar dengan apa yang sudah kamu miliki hari ini. Sederhana bukan berarti kurang, dan bahagia bukan tentang tempat atau kondisi yang ideal, tapi soal bagaimana cara kita menikmatinya.
Jangan tunggu punya banyak untuk bisa bersyukur. Karena bisa jadi, justru saat kita bersyukur atas yang sedikit, di sanalah rasa cukup dan bahagia benar-benar hadir.
Terima kasih sudah membaca sampai habis, sukses untuk Anda semua, dan see you on the top…