Wildan Asrori
Sun, 17 August 2025
15:03
No Comments
Weekend kemarin saya melakukan eksperimen sederhana: sehari penuh tanpa menyentuh HP. Awalnya, terasa agak berat karena biasanya HP selalu ada di tangan, entah untuk mengecek pesan, notifikasi, atau sekadar scrolling
Sejak tahun 2019, saya punya kebiasaan sederhana yang sangat berdampak besar dalam kehidupan saya yaitu : menulis jurnal setiap hari. Dan bisa dikatakan 365 hari dalam 1 tahun, 95% saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan. Awalnya, ini hanya cara saya melampiaskan perasaan yang seringkali tidak bisa saya ceritakan. Tapi semakin ke sini, saya mulai sadar bahwa kebiasaan ini menjadi semacam “teman” yang setia mendengarkan, tanpa menghakimi. Lewat jurnal, saya bisa merefleksikan diri, mengenal pikiran saya yang paling dalam, dan melepaskan berbagai
“Berpikir satu jam lebih baik daripada beribadah selama enam puluh tahun.” — Hadis Nabi Muhammad SAW Kapan terakhir kali kamu benar-benar meluangkan waktu 1–2 jam hanya untuk berpikir? Bukan sekadar rebahan atau scrolling media sosial, tapi merenung secara jernih tentang hidup yang sedang kamu jalani? Atau jangan-jangan, kamu bahkan belum pernah menyisihkan waktu sedetik pun untuk benar-benar memberi ruang bagi pikiranmu bernapas? Itulah yang sedang saya rasakan dan renungkan akhir-akhir ini. Saya mulai membiasakan diri untuk menyediakan waktu khusus sekitar
“Saat hidup hanya diukur pengakuan dari luar, kita jadi kehilangan kebahagiaan dan keintiman dengan diri dari dalam.” Akhir pekan lalu, saya memutuskan untuk ngopi santai di Telaga Ngebel. Suasananya ramai, khas weekend. Sejenak, untuk melepaskan penat pekerjaan yang lumayan hetik. Saat sedang menikmati secangkir kopi hangat, tiba-tiba datang dua cewek mahasiswa. Mereka duduk tepat di depan saya, tampak santai. Sekitar 10 menit setelah mereka datang, sambil menikmati kopi dan cemilan, tiba-tiba mereka berdiri dan mulai joget-joget di depan kamera ponsel.